Tradisi? Saat Politikus Selingkuh dan Korupsi Tak Perlu Mundur!

Terkadang ingin juga rasanya menulis di blog ini yang bebas dari isu politik. Tapi jujur saja itu sangatlah sulit jika melihat fakta-fakta yang terjadi di negeri ini.


Salah satu yang membuat saya juga ingin ikut berbicara yaitu terkait dengan kasus perselingkuhan yang diduga dilakukan oleh Bupati Kabupaten Katingan, H Ahmad Yantenglie dengan Farida Yeni.


Saya tetap mencoba menghormati azas praduga tak bersalah dalam kasus ini, apalagi juka dalam beberapa kesempatan diberitakan juga jika Bupati Kabupaten Katingan, H Ahmad Yantenglie mengaku sudah menikah siri dengan Farida Yeni sekitar sebulan lalu. 


Namun, seandainya informasi pengakuan dirinya betul dirinya sudah nikah siri, apakah pernikahan sirinya SAH jika pada fakta yang lain juga tak terbantahkan jika Farida Yeni secara SAH masih berstatus istri dari Aibda Sulis Heri?


Namun disini saya tidak ingin mengomentari secara khusus atas kasus ini saja, melainkan saya hanya ikut prihatin seprihatin-prihatinya dengan beebrapa [tidak semua] sikap politikus yang menjabat, tapi saat dirinya terjerat kasus perselingkuhan dan korupsi, mereka masih tetap ngotot untuk tidak mengundurkan diri dari jabatan politiknya.


Dalam kasus perselingkuhan contohnya bisa dilihat dalam kasus Bupati Kabupaten Katingan, H Ahmad Yantenglie ini.


Setingkat Bupati, digerebek sedang "mesum" oleh suami dari perempuan yang diselingkuhi, ini menurut saya sungguh teramatsangat memalukan.


Saya awalnya secara pemikiran berdasarkan psikologi saya, tentunya Bupati Kabupaten Katingan, H Ahmad Yantenglie pasti akan mengundurkan diri dari jabatanya akrena kasus tersebut langsung menyebar secara nasional.


Tapi ternyata, Fakta berkata lain karena Bupati Kabupaten Katingan, H Ahmad Yantenglie tetap masih bersikukuh untuk tidak mundur dari jabatanya, bahkan seolah tidak merasa bersalah karena mengaku jika dirinya sudah menikah siri.


Bupati Kabupaten Katingan, H Ahmad Yantenglie dan selingkuhanya. -Gambar: googlingPadahal sebagaimana saya sebutkan di atas, seandainya informasi pengakuan dirinya betul dirinya sudah nikah siri, apakah pernikahan sirinya SAH jika pada fakta yang lain juga tak terbantahkan jika Farida Yeni secara SAH masih berstatus istri dari Aibda Sulis Heri?


Kalau pernikahan siri itu SAH, berarti secara terang-terangan si Bupati ingin mengatakan jika dalam islam itu diblehkan Istri punya suami dua?


Kebiasaan lain dari pejabat yang saya anggap sudah "putus" urat malunya adalah mereka para politikus yang memiliki jabatan kemudian terlibat korupsi tapi ngotot tidak mau mengundurkan diri.


Kalau yang ini contohnya terlalu buanyak, silahkan anda googling sendiri ada banyak contohnya.


Bagi mereka yang seperti itu, saya juga gregetan banget kok ada sih manusia-manusia yang begitu gila sama jabatanya, sampai-sampai sudah terbukti bersalah sekalipun tetap masih ngotot ingin menjabat dan tidak mau mengundurkan diri.


Dari fakta-fakta ini, kadang saya berfikir, mungkinkah dalam mereka berpolitik, memang tidak ada aturan terkait peraturan yang mengatur soal akhlaq dan norma dalam berpolitik?


Akibatnya, saat politikus yang memegang jabatan terlibat kasus perselingkuhan dan korupsi, mereka tak perlu malu apalagi sampai mengundurkan diri.


Jika itu yang terjadi, SUNGGUH T E R L A L U!

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.