Ketika Ilmu Lebih Didewakan dari Moral

Saya hampir setiap ngobrol dengan orang-orang yang sudah memiliki anak, hampir rata-rata [tidak semua] mengatakan betapa sulitnya mengatur anak.


Tidak hanya terkait soal sulitnya diatur dan diberikan nasihat yang baik oleh orang tuanya, anak-anak sekarang dianggap terlalu berani melawan orang tuanya.


Bahkan yang menyedihkan lagi, ada juga orang tua yang sampai bilang, "anak sekarang sudah gak punya akhlak dan moral".


Akhlaq dan moral anak-anak sekarang yang dianggap mulai hilang bisa dilihat dari cara bicara anak yang kasar dengan orang tua, berani membentak orang tua, pandai bohongi orang tua, melanggar perintah [baik] orang tua, bahkan ada juga anak yang berani berkelahi hingga membunuh orang tuanya.


Anda bisa membayangkan,


Jika seorang anak saja sudah berani berkata kasar, berbohong, membantah, bahkan berkelahi dengan orang tua yang mengandung, melahirkan, merawat dan mengurusnya dari kecil hingga dewasa, lantas bagaimana perilakunya dengan orang lain?


Melihat fakta ini, jangan heran jika di sosial media kita begitu mudah menemukan perilaku orang yang berani menghina, mencela, menghujat sebarkan fitnah dan hoax semau mereka.


Jangankan kok teman-teman atau orang-orang yang tidak dikenal di sosial media, orang tua kandung sendiri saja yang jelas-jelas berjasa sudah tak dihargai mereka?


Jika kondisi ini hanya terjadi pada jumlah yang kecil dan minoritas, mungkin tidak terlalu berbahaya. Namun anda bisa memabyangkan, jika setiap generasi di negeri ini bersikap demikian?


Tentunya kita wajib harus bertindak dan tidak boleh tinggal diam saja. Harus ada langkah kongkrit untuk hentikan kondisi yang teramatsangat berbahaya ini.


Kita memang harus berani melakukan evaluasi secara besar-besaran di negeri ini.


Paling mudah diucapkan hingga sudah saya pastikan semua pasti hafal dengan ungkapan, "Dimulai dari diri sendiri dan keluarga masing-masing".


Sesuatu yang sangat difahami dan mudah diingat dan dihafal, tapi pelaksanaanya sulitnya minta ampun!


Dengan langkah ini tentunya setiap orang harus koreksi diri, dan tidak boleh saling menyalahkan. Kalaupun harus ada pernyataan disalahkan, setidaknya harus ada pembuktian dan dicari solusi penyelesaian.


Sistem pendidikan di Indonesia saat ini menurut saya terlalu FOKUS dan lebih MENGHARGAI siswa yang cerdas [berilmu] daripada mereka para SISWA yang memiliki AKHLAQ yang BAIK.


Akibatnya, siswa mengHALALKAN berbagai macam cara untuk memiliki NILAI PELAJARAN yang BAIK, walaupun dengan cara HARAM dan melanggar aturan, mulai dari mencotek, membeli jawaban soal saat UAN, dan lainya, yang penting NILAINYA BAIK.


Bahkan akibat terburuknya, Guru-guru dan kepala sekolah seolah-olah karena tidak mau siswa di sekolahnya banyak yang tidak lulus, yang itu artinya mempermalukan mereka [guru dan nama baik sekolah], akhirnya secara bersama-sama membocorkan nilai jawaban kepada siswanya, yang penting mereka lolos Ujian Akhir Nasional.


Ilustrasi Gambar: Dunia Perpustakaan


Dan tahukah anda, akibat kondisi tersebut, jangan heran jika kemudian di negeri ini memang memiliki semakin banyak orang berpendidikan tinggi, banyak orang pandai.


Namun kemudian karena pendidikan akhlaq dan moral diabaikan, maka koruptor juga tetap tumbuh subur. 


Tidak hanya itu saja, karena pendidikan akhlaq diabaikan, maka KEJUJURAN seolah jadi barang langka, Kebohongan jadi keharusan dan membudaya.


Di sosial media juga mudah kita temukan setiap orang begitu mudah saling mencaci-maki, menghina, dan mencela di sosial media semau mereka, hanya karena berbeda pendapat dan beda pilihan saja.


Sehingga jangan heran juga banyak orang menyebarkan fitnah, Hoax jadi kebiasaan dan kebanggaan tanpa ada hentinya tanpa perlu takut berfikir soal dosa.


Karena pendidikan akhlaq yang terabaikan, akibatnya juga tak mengenal tua muda, yang berkuasa atau orang biasa, semuanya begitu mudah merasa paling benar, merasa paling pintar sehingga begitu mudah meremehkan, merendahkan, menghina dan selalu mencari kekurangan satu dengan yang lainya.


Karena pendidikan yang terabaikan juga, orang-orang besar di negeri ini yang masing-masing memiliki pengikut setia, saat negeri ini banyak masalah dan kekurangan, bukanya ikut bergotong royong membantu memecahkan masalah justru malah dijadikan ALAT dan KESEMPATAN untuk BISA MENGHINA, MELECEHKAN, BAHKAN saling merendahkan dan MENAMBAH MASALAH!


Dan itu dilakukan oleh orang-orang yang katanya "orang besar" yang DIAMINI oleh jajaran pengikut setianya, dilakukan dengan SADAR dan PENUH BANGGA di share di sosial media :-(


Seolah-olah mereka begitu PUAS jika bisa menghina antar satu tokoh dengan tokoh yang lain, begitu juga dengan antar pengikut setianya :-(


Lucunya, dilain kesempatan mereka mengklaim jika mereka orang-orang terbaik di negeri ini yang katanya INGIN jadi bagian dan BERPERAN AKTIF MEMBANGUN INDONESIA?


Bahkan yang lebih miris lagi, dan menurut saya ini sangat mengerikan. Tapi HARUS DICATAT, SAYA TEGASKAN mudah-mudahan di Indonesia BELUM ADA. 


Dimana orang belajar agama bukan untuk perbaiki akhlaq dan berbuat baik, tapi justru mereka belajar agama untuk supaya bisa menghina, merendahkan, kelompok agama, suku, dan ras yang lain.


Jangankan beda agama, beda suku, dan ras, atau kelompok lain...


Sama-sama seagama, sama-sama menyembah Alloh Tuhan yang Sama, meyakini Rosul Muhammad S.A.W sebagai Nabi dan rosul yang sama, membaca kitab Suci Al-Qur'an yang sama, Menjalankan perintah Sholat 5 waktu yang sama, menghadap sholat dengan arah kiblat yang sama, dan berbagai kesamaan lainya, toh tetap saja ada yang begitu tega saling mengkafir-kafirkan hanya beda pendapat dan beda aliran saja.


Sungguh saya berharap semoga saja itu hanya ada pada dunia dongeng saja dan belum terjadi di Indonesia.


Kalaupun itu sudah ada dan terjadi di Indonesia, pertanyaanya, "MAU SAMPAI KAPAN?"


Bukankah Rosululloh Muhammad S.A.W diutus ke bumi ini bukan untuk MEMAKSAKAN SELURUH UMAT DI BUMI INI HARUS MASUK ISLAM SEMUA? melainkan Rosul Muhammad S.A.W diutus untuk menyempurnakan AKHLAQ?


Solusi atas masalah ini semua, saya meyakini hanya AKHLAQ yang mampu menghentikanya.


Mau dia orang pandai, orang kurang cerdas, orang berkuasa, orang biasa, orang kaya, orang miskin, pejabat negara, rakyat jelata, KALAU AKHLAQNYA BAIK, PASTILAH SEMUA AKAN BAIK-BAIK SAJA!


Tapi mau jadi orang sehebat apapun, sekaya apapun, seberapa tinggi kecerdasan seseorang, KALAU AKHLAQNYA BEJAT? Tentunya hanya akan menjadi "sampah" dan perusak bangsa saja!

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.