Sulitnya Menghilangkan Gengsi di Kalangan Anak Muda dan Solusinya

Saya berani menuliskan judul diatas karena saya juga pernah mengalami dimana saya jujur saja juga tetap pernah memiliki rasa gengsi.


Gengsi yang saya maksudkan disini bisa bermakna positif dan bisa juga bermakna negatif, bergantung pada bagaimana kita menyikapinya.


Kalau saya boleh menarik ke belakang saat saya masih pelajar dulu, jujur saja saya juga pernah punya perasaan gengsi ketika teman-teman sudah bisa menggunakan motor, tapi saya hanya pakai sepeda kayuh.


Saya juga pernah punya perasaan gengsi saat teman-teman saya sepulang sekolah bisa bermain tapi saya justru harus menggembalakan kambing.


Saya juga pernah punya perasaan gengsi saat teman-teman asyik kuliah, saya justru harus gelar dagangan di pinggir jalan saat malam harinya untuk biaya kuliah, bantu orang tua, bayar kost, dan untuk bertahan hidup.


Dan kalau saya ungkapkan pastinya masih bayak lagi perasaan yang terkait gengsi sebagai seorang anak muda saat menghadapi kondisi-kondisi tersebut diatas.


Namun saya bersyukur karena dari rasa gengsi itu kemudian saya menyikapinya dengan cara yang positif.


Memang saya pernah merasa memiliki rasa gengsi saat pelajar dulu, dimana banyak teman-teman sudah menggunakan motor tapi saya justru menggunakan sepeda kayuh. 


Tapi saya berfikir saat itu, apa bangganya mengendarai motor yang itu milik orang tuanya? Saya lebih bangga menaiki sepeda kayuh yang saya beli dari menabung hasil penjualan kambing yang saya gembalakan setiap harinya.


Memang saya pernah merasa gengsi saat teman-teman asyik kuliah dan bisa rajin berangkat tanpa beban soal biaya kuliah, sedangkan saya justru harus sibuk bekerja.


Namun dari situ saya justru bangga karena saya mampu biaya kuliah sendiri bahkan bisa membeli kendaraan sendiri juga bisa membantu kebutuhan orang tua saya.


Saya juga pernah merasa gengsi saat teman-teman sudah bekerja di berbagai instansi terkemuka sedangkan saya hanya fokus berwiraswasta. Namun setidaknya saya bersyukur karena dengan bekerja sendiri saya memiliki banyak waktu untuk merawat orang tua saya dan berlibur kapan saja sesuka saya.


Saya pikir masih banyak rasa gengsi yang dimiliki oleh tiap-tiap anak muda. Namun baik tidaknya sifat gengsi tersebut bergantung pada bagaimana reaksi kita.


Jika rasa gengsi itu kemudian menjadikan kita menjadi berperilaku minder, kurang PD, bahkan yang lebih mengerikan lagi menjadi anak muda yang SOK KAYA padahal hanya orang biasa, maka bersiap-siaplah kita menjadi anak muda yang akan menderita di hari tuanya.


Namun jika rasa gengsi itu kemudian kita sikapi dengan perilaku yang postitif dan kita jadikan semangat dan motivasi untuk terus berkarya tanpa henti untuk terus perbaiki diri, niscaya pada saatnya kita akan menikmati hasil terbaiknya pada usia-usia berikutnya.


Agar gengsi yang dimiliki oleh anak muda tidak disikapi dengan negatif, maka kita harus menyikapi dengan beberapa sikap positif seperti perbanyak rasa syukur. Bersyukurlah dengan apa yang Tuhan berikan kepada kita. Jadikan rasa gengsi itu sebagai motivasi supaya kita bisa meraih apa yang kita inginkan dengan cara baik.


Jadi misal anda gengsi karena belum punya motor tapi teman-teman sudah memiliki motor, jadikan itu menjadi penyemangat jika anda pasti bisa punya motor, tentunya untuk bisa memiliki motor anda harus bekerja lebih giat dan tidak boros.


 


Solusi lainya menurut saya yang juga sangat penting adalah peran orang tua dan gurunya.


Peran orang tua untuk mengarahkan rasa gengsi anaknya menjadi hal yang positif sangat menentukan. Karena yang saya amati saat anak merasa gengsi kalau disuruh naik sepeda, biasanya orang tuanya justru memiliki rasa gengsi yang besar juga sehingga anaknya justru dibelikan motor walau kredit.


Seharusnya orang tuanya dan juga guru harus menanamkan prinsip hidup yang benar kepada anak-anaknya supaya jadilah anak muda yang pandai bersyukur dan motivasilah supaya si anak jadi anak yang memiliki jiwa untuk mau berjuang.


Bisa saja misalnya orang tua memberikan nasihat kepada anaknya seperti ini,


"Nak, orang tua kamu memang hari ini hanya mampu membelikanmu sepeda, tapi syukurilah itu nak karena untuk mendapatkan sepeda itu sendiri orang tuamu harus bekerja habis-habisan. Jika kamu hari ini belum bisa punya motor, maka rajin-rajinlah sekolah dan belajar yang rajin dan raihlah prestasi biar saat lulus sekolah kamu bisa dapat beasiswa kuliah atau bisa sambil kerja dan akhirnya bisa jadi orang sukses."


Itu hanyalah sedikit contoh dari masih banyaknya cara untuk membuang rasa gengsi di hati anak-anak muda di sekitar kita.


Saya pikir sebenarnya dalam diri setiap anak muda memiliki peluang yang sama untuk menyongsing masa depan yang lebih baik atau buruk. Semuanya itu bergantung pada sikap dan perbuatan anda.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.