Antara Hancur Leburnya Koalisi Permanen Merah Putih dan Moral Politisi

Beberapa saat yang lalu saat Koalisi Merah Putih [KMP] mengatakan bahkan sempat memploklamirkan diri bahwa koalisi yang mereka bangun adalah Koalisi Permanen, saya sudah tertawa dulu dalam diri saya.


Ya, saya tertawa karena sungguhlah sangat lucu di negeri ini yang sudah jelas-jelas kita sudah tahu bagaimana perangai dari politisi kita, kok bisa-bisanya mengatakan jika KMP dibangun dengan cara permanen.


Saya bukan politisi atau pengamat politik, ataupun kuliah di jurusan ilmu politik. Saya hanya seorang anak petani biasa yang kebetulan saja suka membaca, jadi dengan modal membaca itu saja sudah bisa menduga banget bahwa politisi permanen itu tidaklah mungkin bisa terjadi di Indonesia. Apalagi kalau melihat tokoh politisinya "itu-itu" saja, dari mukanya saja sudah bisa ditebak banget bahwa tidak akan mungkin orang-orang politisi seperti mereka bisa diajak koalisi permanen.


Kehancuran Koalisi Merah Putih sudah mulai terlihat saat munculnya dua kubu di partai PPP yang kemudian menyusul Golkar yang dua partai tersebut mengalami perpecahan.


Untuk PAN memang tidak terlalu mencuat terkait perpecahan di internal partainya, namun kepastian kalau PAN sudah mulai tidak konsisten dengan koalisi permanenya dengan KMP saat menunjukan dukungan PAN terhadap pemerintah.


Dengan melihat kondisi tersebut, maka saat ini koalisi merah putih hanya tersisa Gerindra dan PKS. 


Keputusan untuk membangun Koalisi Permanen saat itu menurut saya memang sebuah "emosi sesaat" dari para politisi yang berharap denga koalisi yang mereka bangun mampu mengalajkan Jokowi. Namun begitu kalah, maka "kegalauan" dari para politisi yang tergabung dalam Koalisi Merah Putih mulai terlihat. Puncaknya akhir-akhir ini yang kemudian secara terbuka PAN, PPP, dan Golkar saat ini mendukung pemerintah.


Namun terkadang saya juga berfikir, masuknya partai-partai koalisi merah putih yang satu persatu menyatakan dukunganya terhadap pemerintah, jangan-jangan mereka ingin "mengganggu" program-program pemerintah?


Tujuanya tentunya kalau program-program pemerintah tidak berjalan dengan baik, itu artinya apda pemilu selanjutnya, politisi-politisi ini bisa memiliki senjata untuk mengatakan jika program pemerintah saat ini tidaka da baiknya.


Walaupun mungkin dugaan saya tersebut dianggap berlebihan atau tidak mungkin, tapi harus ingatlah bahwa tidak ada yang tidak mungkin untuk melakukan perebutan kekuasaan.


Contoh nyatanya dulu Koalisi Merah Putih bilang katanya koalisi permanen, tapi faktanya sekarang?


Kalau kita melihat hasil Pilkada serentak 2015 yang lalu, terlihat jelas juga bahwa koalisi merah putih yang katanya permanen bisa dikatakan nyaris tak terlihat.


Kalau pemilihan kepala daerahnya melalui jalur DPRD, mungkin saja koalisi KMP bisa berfungsi dengan baik. Namun karena pemilukada dilakukan secara langsung, artinya mesin partai koalisi kurang terlalu berguna karena rakyat sebagai pemilih tentunya lebih banyak melihat sosok calon pemimpin daerahnya dan bukan partainya.


Dari beberapa kasus dan runtutan yang saya sebutkan diatas, maka sudah sangat jelas bahwa koalisi permanent di Indonesia sangatlah tidak mungkin.


Alasanya karena moral-moral politisi kita tidak menunjukan ke arah itu. Politisi-politisi kita ini moralnya mungkin masih sebatas ditentukan pada prinsip soal "Untung dan untung".


Jadi tidak mikirin soal memalukan atau tidak karena sudah keluar dari komitmen awal mereka yang katanya koalisi permanen, yang penting bagi politisi itu menguntungkan.


Pelajaran yang bisa kita dapat dari "tontonan/dagelan politik" yang kita lihat saat ini menurut saya adalah, Jangan terlalu percaya dengan omongan dan ucapan politisi.


Kalau teman saya yang lebih extreame lagi bilang sampai berkata, "Jangan pernah percaya dengan ucapan apalagi janji politisi". 


Pelajaran kedua tentunya kalau saya boleh saran, jangan sampai kita memberikan kesempatan kepada politisi-politisi yang memang diisi kepala mereka hanya soal mikirin keuntungan untuk dirinya dan partainya saja. Akibatnya ya seperti sekarang ini yang kita lihat.


Ketakutan saya yang sebetulnya membuat saya khawatir yaitu ketika para politisi yang seperti itu menganggap jika rakyat Indonesia dianggap masih banyak yang kurang cerdas dalam memilih politisi. Karena sadar para Politisi tahu kondisi ini, itu kenapa mereka para politisi yang seperti itu akan tetap nyalon lagi dan mereka percaya jika mereka bisa terpilih lagi yang penting punya duit.


Semoga saja negeri ini bisa terselamatkan dengan semakin banyaknya politisi yang tidak lagi mau dijadikan "budak partai", melainkan benar-benar mengutmakan mengabdi untuk rakyatnya. Semoga!

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.