Hari Guru: Antara Sistem Pendidikan, Guru, Mata Pelajaran, dan Siswa

Hari Guru: Antara Sistem Pendidikan, SDM Guru, Siswa dan Orang Tua


gambar; rumahbelajar.web.id"Jika anda ingin mengajarkan kepada siswa yang itu pasti DIBUTUHKAN oleh semua umat manusia dan makhluk hidup lainya, Ajarkanlah siswa anda tentang AKHLAQ, Ajarkanlah supaya anak tidak mengambil sekecilpun yang bukan haknya, ajarkanlah Tentang Cara Menghormati orang lain, Cara mengasihi dan menyayangi Orang lain, Ajarkanlah cara menolong orang lain, Ajarkanlah Kejujuran, Ajarkanlah Cara membuang sampah pada tempatnya, Ajarkanlah cara menjaga lingkungan, dan Ajarkanlah semua tentang kebaikan yang lainya yang saya pastikan itu semua nanti DIBUTUHKAN oleh semua umat manusia bahkan alam dan seisinya.


Jika anda mengajarkan ilmu matematika, fisika, kimia, maka tidak mungkin ilmu tersebut kelak dibutuhkan oleh semua manusia.


Tapi jika anda mengajarkan siswa anda tentang AKHLAQ, Tentang Cara Menghormati orang lain, Cara mengasihi dan menyayangi Orang lain, mengajarkan cara menolong orang lain, mengajarkan Kejujuran, mengajarkan Cara membuang sampah pada tempatnya, mengajarkan cara menjaga lingkungan, dan mengajarkan semua tentang kebaikan yang lainya, saya pastikan itu semua nanti akan DIBUTUHKAN oleh semua umat manusia bahkan alam semesta dan seisinya."


Jujur saja terkadang saya agak malas kalau menulis terkait isu-isu seperti ini, karena terkadang dan sudah sering sekali ketika saya menulis kritik dan saran serta beberapa alternatif solusi, oleh beberapa pembaca yang kurang memahami tulisan saya, mereka terburu-buru langsung ambil penafsiran sendiri akhirnya tidak nyambung dengan apa yang saya tulis.


Demikian juga terkait dengan isu Hari Guru Nasional yang diperingati tiap tanggal 25 November hari ini.


Namun saya fikir saya memang tetap harus menuliskan hal ini karena saya jujur sangat resah dengan apa yang sering saya lihat tentang nasib guru saat ini.


Nasib guru yang membuat saya resah yang pertama yaitu tentang nasib guru-guru NON PNS [Guru Bantu, Guru Honorer, dan sejenisnya].


Melihat curhatan teman-teman saya yang sering sekali nasibnya cukup mengenaskan. Dimana gajinya teramat sangat kecil [di bawah UMR]. Padahal kerjanya guru-guru "NON PNS" terkadang seringkali dianggap oleh para siswa justru lebih baik dan mudah difahami saat mengajar.


Hal tersebut karena biasanya guru-guru NON PNS yang khususnya masih muda mereka lebih kreatif dan inovatif sehingga siswa mudah memahami.


Ketika saya tanya kepada teman saya yang berprofesi sebagai Guru NON PNS dan juga tetangga saya yang masih sekolah, emangnya kalau Guru PNS ngajarnya seperti apa?


Jawabanya hampir sama, "Namanya juga sudah jadi PNS, kan kerja biasa-biasa saja sama kerja yang terbaik sekalipun, gajinya tetap sama, akhirnya mereka yang PNS ngajarnya seperti "asal ngajar saja".


Buat anda yang Guru sudah PNS, saya harapkan anda tidak perlu marah atau tersinggung. Selama anda adalah seorang Guru PNS yang tidak seperti yang dimaksudkan oleh siswa tetangga saya dan juga oleh teman Guru Non PNS saya tidak perlu anda marah dan tersinggung.


Karena saya juga setuju jika tidak semua Guru PNS sama seperti yang dinilai oleh siswa dan Guru non PNS tersebut.


Keprihatinan selanjutnya yang ingin saya sampaikan di Hari Guru ini adalah terkait dengan Sistem Pendidikan.


Saya teramatsangat masih kecewa dan akal fikiran saya masih belum bisa menerima tentang sistem pendidikan di Indonesia yang masih begitu saja.


Begitu saja yang saya maksudkan disini yaitu terkait dengan "DIPAKSAKANYA" Siswa untuk mempelajari dan Menguasai SEMUA Mata Pelajaran.


Padahal BAKAT dan MINAT serta KEMAMPUAN setiap siswa itu kan sudah bisa DIPASTIKAN berbeda-beda.


Bahkan Gurunya saja paling HANYA MAMPU MENGAJAR satu Mata Pelajaran saja kok, Tapi ANEH dan Lucunya, Kenapa Siswanya justru Dipaksa untuk menguasai banyak pelajaran?


Saya punya tetangga yang jujur sangat kasihan melihatnya. Nilai mata pelajaran matematika dan memang mayoritas pelajaran yang diwajibkan di sekolah, nilainya hampir sangat buruk. Bahkan si anak oleh teman-teman dan oleh orang tuanya dianggap "Bod*h".


Saya sangat kasihan sekali melihatnya, hingga sewaktu-waktu saat dia lewat depan rumah, saya ajak dia aku kenalin tentang komputer. Saya ajarin sedikit demi sedikit cara menulis di komputer, bagaimana cara membuat tulisan miring, menebalkan tulisan, dan mewarnai tulisan. Ternyata setelah beberapa hari sering ke rumah saya, ternyata si anak tersebut jauh lebih cepat memahami dibandingkan dengan anak-anak yang lain yang saya ajari. Bahkan dengan anak yang mendapat rangking satu di kelas, anak yang dianggap "bod*h" itu jauh lebih cerdas dalam memahami soal komputer.


Tidak hanya itu saja, anak yang di sekolah dan dilingkungan saya dikenal "bod*h" tersebut, ternyata memiliki kebiasaan yang saya lihat dengan mata kepala saya sendiri hampir tidak pernah dilakukan oleh anak-anak lain. Kebiasaan tersebut yaitu kebiasaan membantu Ibunya. 


Anak ini baru kelas 3 SD, tapi dia sudah membantu cuci piring, rebus air panas untuk mandi adiknya, ambil air di sumur, bantu-bantu angkat pasir bapaknya, hingga saat ada kerja bakti warga, anak ini terlihat paling rajin dan bersemangat.


Nah, dari sedikit apa yang saya lihat, bakat si anak ini sebenarnya snagat baik dan luar biasa menurut saya. Namun sayangnya, gara-gara nilai matematikanya yang buruk, si anak ini harus dicap sebagai anak yang "bod*h" di sekolah dan oleh lingkunganya.


Anda tentunya bisa membayangkan betapa minder dan sakitnya ketika dicap sebagai anak yang "bod*h"?


Saya yakin tidak hanya anaknya saja yang merasakan sakit dan malunya, tapi orang tuanya juga pasti sangat malu.


Disinilah saya teramat sangat prihatin dengan sistem pendidikan di Indonesia yang menurut saya memang masih sangat buruk. Belum lagi masalah SDM Guru juga terkadang masih perlu terus ditingkatkan.


Sebenarnya masih banyak sekali yang ingin saya kupas disini, namun akan saya tulis pada tulisan-tulisan selanjutnya atau pada kesempatan yang lain.


Solusi saya untuk Guru-guru di Indonesia, 


"Jangan PAKSA semua siswa didik anda untuk MENGUASAI dan PANDAI dalam semua mata pelajaran karena itu MUSTAHIL. Bukankah anda sendiri sebagai seorang guru juga TIDAK MUNGKIN Mampu menguasai dan Jago MENGAJAR di semua Mata Pelajaran?


Jadilah guru yang mampu mencari dan menggali dimana bakat dan minat si siswa, lalu arahkan dan fokuskan supaya si siswa itu menjadi ahli di bidang mata pelajaran yang siswa tersebut dikuasai.


Jika semua guru melakukan hal yang seperti itu, yakinlah di negeri ini akan lahir anak-anak cerdas yang dilahirkan dari Guru-guru berkualitas dan luar biasa seperti anda.


Ingatlah, sepanjang sejarah tidak ada orang yang mampu berprofesi menjadi Dokter, menjadi polisi, menjadi pengusaha, dan lain-lain dalam waktu yang bersamaan.


Setiap siswa yang anda didik, seberapa banyak pelajaran yang anda wajibkan di sekolah, yakinlah pada saatnya mereka akan memilih satu profesi tertentu saja.


"Jika anda ingin mengajarkan kepada siswa yang itu pasti DIBUTUHKAN oleh semua umat manusia dan makhluk hidup lainya, Ajarkanlah siswa anda tentang AKHLAQ, Ajarkanlah supaya anak tidak mengambil sekecilpun yang bukan haknya, ajarkanlah Tentang Cara Menghormati orang lain, Cara mengasihi dan menyayangi Orang lain, Ajarkanlah cara menolong orang lain, Ajarkanlah Kejujuran, Ajarkanlah Cara membuang sampah pada tempatnya, Ajarkanlah cara menjaga lingkungan, dan Ajarkanlah semua tentang kebaikan yang lainya yang saya pastikan itu semua nanti DIBUTUHKAN oleh semua umat manusia bahkan alam dan seisinya.


Jika anda mengajarkan ilmu matematika, fisika, kimia, maka tidak mungkin ilmu tersebut kelak dibutuhkan oleh semua siswa.


Tapi jika anda mengajarkan siswa anda tentang AKHLAQ, Tentang Cara Menghormati orang lain, Cara mengasihi dan menyayangi Orang lain, mengajarkan cara menolong orang lain, mengajarkan Kejujuran, mengajarkan Cara membuang sampah pada tempatnya, mengajarkan cara menjaga lingkungan, dan mengajarkan semua tentang kebaikan yang lainya, saya pastikan itu semua nanti akan DIBUTUHKAN oleh semua umat manusia bahkan alam semesta dan seisinya".


Mohon maaf jika ada kalimat yang kurang berkenan....


Selamat Hari Guru Nasional 25 November 2015!

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.