8 Film Pendek Indonesia ini Akan Ikuti Festival Sinema Prancis

Dalam dunia perfilman Indonesia, mungkin di benak kita masih banyak orang berfikir jika film di Indonesia memang masih kurang maju, apalagi jika dibandingkan dengan film di luar negeri.


Hal ini sebenarnya juga sering saya singgung dan saya sampaikan jika memang beberapa film dari Indonesia memang masih kurang bikin bangga.


Apalagi tema film-film Indonesia yang terkadang menjenuhkan. Kalau tidak soal film yang mengumbar erotisme, kadang film-film berbau mistis lebih banyak mendominasi.


Walaupun pada perkembanganya, beberapa film dari Indonesia memang mulai terlihat semakin membaik. Walaupun tetap saja perlu terus diawasi dan dikritisi agar film-film dari Indonesia juga semakin baik lagi.


Harapanya tentunya agar film dari Indonesia bisa dikenal tidak hanya di Indonesia saja tapi melainkan juga dikenal hingga di manca negara.


Berbicara terkait dengan film-film Indonesia yang diharapkan mampu tampil di mancanegara, maka setidaknya kita patut bangga karena ada sekitar 8 film Pendek Indonesia yang akan mengikuti Adu Kuat di Festival Sinema Prancis.


Walaupun mungkin kedelapan film tersebut belum tayang di mancanegara, namun setidaknya melalui festifal Sinema Prancis ini diharapkan mampu menginpirasi dan memotivasi dunia perfilman di Indonesia untuk supaya film di Indonesia semakin maju terus.


Keberhasilan 8 film pendek tersebut sendiri merupakan bagian dari tradisi untuk mempertemukan para penikmat film dan pembuat film yang kembali akan diteruskan oleh Festival Sinema Prancis dengan perhelatannya yang masuk ke usia 20 tahun pada awal Desember nanti.


Sebagai festival film asing tertua di Indonesia, Festival Sinema Prancis juga bukan cuma memutarkan film-film Prancis yang memiliki kualitas baik, tapi juga menyelenggarakan kembali Kompetisi Film Pendek untuk keempat kalinya.


“Tahun ini Kompetisi Film Pendek Festival Sinema Prancis menerima 183 film pendek. 70 persen dari film yang diterima berasal dari luar Jakarta dengan tema beragam. Tak cinta melulu dan banyak mengangkat masalah hidup dan kritik sosial yang dipaparkan dengan sentilan jenaka," ujar Meninaputri Wismurti, Koordinator Festival Sinema Prancis 2015, saat jumpa pers di auditorium Institut Prancis di Indonesia (Institut Français d’Indonésie) di Jakarta pada Kamis pekan lalu.


Sebagaimana saya kutip dari muvila.com, Menurut Putri selaku Koordinator, jumlah film pendek yang mendaftar dan asalnya telah menunjukkan bahwa film tak lagi menjadi dominasi pembuat film di ibukota, dan semakin banyak sutradara muda di luar Jakarta yang harus diperhitungkan demi membakar gairah industri film Indonesia. Ditambah lagi, jumlah pendaftar Kompetisi Film Pendek Festival Sinema Prancis tahun ini melonjak cukup drastis dibandingkan tiga tahun sebelumnya. Kebanyakan filmnya masih genre fiksi, sekitar 20 persen dokumenter dan 10 persen bergenre animasi. 


Setelah disaring oleh tim programming Festival Sinema Prancis, terpilihlah delapan film pendek yang menjadi finalis Kompetisi Film Pendek tahun ini.


Berikut ini merupakan 8 film Pendek Indonesia yang akan mengikuti Adu Kuat di Festival Sinema Prancis.


#1. Bid & Run(Gugun Ekalaya, 2015), 


 


#2. Iblis Jalanan (Salman Farizi, 2014), 


 


#3. Iman (Nurul Ibrahim, 2014),


 


#4. Return to Sender (Vera Lestafa, 2014), 


 


#5. Sandekala (Amriy Ramadhan, 2015),


 


#6. Simbiosis(Wiranata Tanjaya, 2015), 


 


#7. Sleep Tight Maria (Monica Vanessa Tedja, 2015),


 


#8. The Taste of Fences (Sinung Winahyoko, 2015)


Delapan finalis ini akan bersaing untuk memperebutkan hadiah berupa mendatangi salah satu festival film pendek internasional di Prancis, seperti Festival Film Pendek Clermont-Ferrand dengan terbang bersama maskapai Air France. Hadiah lainnya adalah smartphone dari Wiko, gadget kenamaan Prancis, dan merchandise lainnya.


Di festival film pendek internasional ini, para pemenang Kompetisi Film Pendek ini nantinya juga dapat mempromosikan filmnya. Seperti yang dilakukan oleh tiga pemenang kompetisi ini sebelumnya, yakni Yusuf Radjamuda, B.W. Purba Negara, dan Jason Iskandar.


“Di Clermont-Ferrand Short Film Festival, saya belajar budaya nonton film yang berbeda. Penonton rapi mengantri tiket 45 menit sebelum pertunjukan, usia penonton lebih dewasa dan seleksi program festival yang bervariasi. Banyak sekali eksplorasi gagasan dan bentuk film yang tidak pernah saya lihat di festival lain. Tiap film terasa semangat perlawanannya dan mengulik hidup dari segi pandang yang berbeda,” ungkap Jason.


Sejak digagas pada tahun 2012, Kompetisi Film Pendek Festival Sinema Prancis diniatkan sebagai batu loncatan bagi para sineas muda Indonesia. Selain itu, menurut penggagasnya yang tahun ini juga menjadi salah satu juri, Dimas Jayasrana, Kompetisi Film Pendek ini juga merupakan upaya untuk membuat koneksi antara Festival Sinema Prancis dengan geliat produksi film di Indonesia.


Tahun ini, Festival Sinema Prancis akan diadakan pada 3-6 Desember 2015 sekaligus merayakan ulang tahunnya yang ke-20. Bekerja sama dengan Cinema XXI/21, pusat kebudayaan dan komunitas film lokal, Festival Sinema Prancis bakal kembali hadir di sembilan kota di Indonesia, yakni Jakarta, Bandung, Denpasar, Malang, Surabaya, Yogyakarta, Medan, Makassar dan Balikpapan.


Semoga saja melalui ajang Festifal Film seperti ini kedepan mampu melahirkan film-film berkwalitas yang bisa menembus pasar internasional. Semoga!

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.