Sinetron Dianggap Kurang Mendidik, Tapi Tetap Subur di TV Indonesia

Saya tadi pagi iseng-iseng sambil menikmati secangkir kopi saya mengambil sebuah buku di perpustakaan pribadi saya untuk baca buku. Kebetulan ada satu buku yang ditulis oleh teman saya berjudul "Republik Sinetron". 


Saya sendiri sudah pernah sempat baca tapi belum sampai selesai. 


Sambil membaca lembar demi lembar buku tersebut, di dalamnya memang membahas begitu detil dan lengkap terkait dengan Sinetron. 


Dalam buku tersebut dibahas secara lengkap mulai dari tentang TV dan Sinetron, tentang Rating Sinetron, tentang Pasar Sinetron, Awal kemunculan sinetron di Indonesia, dan masih banyak lagi yang dibahas dalam buku berjudul Republik Sinetron tersebut.


Secara garis besar isi tulisan dari buku tersebut memang berbau kritik dan masukan bahwa hampir rata-rata sinetron di Indonesia dinilai masih banyak kurang mendidik dan kurang banyak manfaatnya daripada bahayanya.


Bahkan hampir setiap tahun juga pihak komisi penyiaran Indonesia juga sering merilis tayangan-tayangan yang kurang mendidik, dan biasanya selalu ada tayangan sinetron yang masuk sebagai salah satu program televisi yang kurang mendidik.


Namun pertanyaanya, Sudah tahu tayangan sinetron dinilai kurang mendidik dan kurang bermanfaat, tapi anehnya kok di televisi Indonesia, sinetron masih tetap subur?


Saya pikir tanpa saya berikan jawaban detil dan alasanya, anda juga bisa memiliki jawaban sendiri bukan?


Ya, apalagi kalau tidak terkait dengan yang namanya bisnis, uang, dan keuntungan. Dalam buku Republik Sinetron ini juga dibahas bahwa rating dalam sebuah acara tv itu memang seolah dijadikan "kiblat" untuk para sponsor. Jadi singkatnya kalau ratingnya tinggi maka sponsor akan berduyun-duyun untuk mengiklankan produk mereka.


Jadi urusan mendidik atau tidak, bermanfaat atau tidak sebuah tayangan sinetron, hal tersebut sepertinya menjadi urusan yang ke sekian kali.


Nah, kalau sudah begitu bagaimana?



Kalau saya sarankan memang lagi-lagi dikembalikan kepada diri kita masing-masing. Jangan pernah terlalu banyak terhadap peran negara dalam usrusan yang beginian. 


Cara terbaiknya supaya generasi kita tidak terdoktrin dengan gaya hidup dan pengaruh buruk dari sinetron, maka harus dimulai dari diri kita dan keluarga masing-masing.


Untuk ibu rumah tangga juga jangan hanya melarang anak untuk tidak nonton sinetron, tapi ibunya sendiri justru begitu "kecanduan" dengan sinetron.


Alangkah baik dan bijaknya untuk mengajarkan kepada anak tentang tontonan yang mendidik, karena disadari atau tidak, apa yang ditonton oleh anak jika tidak ada pendidikan dan pengawasan orang tua, hal tersebut bisa berbahaya untuk perkembangan anak.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.