Dana Pertanian Selalu Naik, Tapi Bukan untuk Sejahterakan PETANI!


Beberapa waktu lalu sempat menyaksikan sebuah pemberitaan di televisi terkait dengan dana pertanian. Dalam sebuah pemberitaan tersebut saya ingat jika untuk tahun 2015 pemerintah pusat menyediakan dana dari APBN untuk sektor pertanian sebanyak Rp 20,8 triliun. 


Dana tersebut ternyata naik pada RAPBN 2016, dimana dana desa ditingkatkan secara signifikan. Jumlah nominalnya cukup fantastis yakni Rp 47 triliun, atau naik 126 persen dari tahun 2015 yang hanya sekitar Rp 20,8 triliun.


Membaca informasi diatas, saya yang kebetulan sedang nonton bersama tetangga saya yang kebetulan seorang petani kecil langsung bertanya ke saya,


"Mas Ari, duit segitu itu nolnya sih ada berapa kalau disebutkan dalam jutaan itu berapa juta? Tidak hanya itu saja, petani tersebut juga berkomentar begini,


"Duit akehe semono kok ora pernah tekan aku ya, wong cilik nasibe ya tetep kayakiye bae. Jarene meh majukaken wong cilik, Sing ana ya wong cilik bisane cuman diapusi thok!"


Kalau diterjemahkan maksud sederhananya petani tersebut itu begini,


Petani tersebut terheran-heran jika ternyata dana untuk pertanian itu BUANYAK BANGEEET tapi lucu dan anehnya, dana sebesar itu tidak pernah mampu untuk mensejahterakan nasib kehidupan petani.


Saya sendiri saat ditanya seperti itu, saya tidak bisa menjelaskan banyak. Saya mencoba menjelaskan sederhana dengan "bahasa ala birokrasi yang sangat normatif" misalnya begini,


"Memang dana tersebut banyak banget karena memang diberikanya tidak semuanya dalam bentuk uang. Tapi diperuntukan untuk membangun waduk, irigasi, dan biaya-biaya operasional lainya. Yang itu semua menurut pemerintah DIYAKINI akan sampai dirasakan ke tangan petani".


Setelah mendengar penjelasan saya tersebut, petani tersebut terus langsung berkomentar,


"Kalaupun misalnya dibuat waduk, irigasi, dan kemudian para petani mampu menanam padi di sawah hingga panen. Tapi kalau dijual harga gabahnya murah, bagaimana petani bisa sejahtera?"


Masih dengan bersemangat, petani tersebut melanjutkan argumenya begini,


Ujung-ujungnya berarti duit sebanyak itu yang menikmati bukan petani. Yang menikmati ya mereka selain petani. Soalnya harga gabah dari dahulu ya segitu-gitu aja, naik sedikit saja sudah langsung pada demo. Padahal kan yang ingin punya duit banyak bukan hanya pejabat, menteri, dan PNS, saja, saya juga kepengin sejahtera. Tapi itu tidak mungkin terjadi, soalnya saya hanya punya beberapa ubin sawah, gabah cuman cukup untuk makan sampai musim panen selanjutnya, itupun sering banyak tidak sampai musim panen selanjutnya gabah sudah habis duluan."


"Untung saja saya sambil kerja kuli bangunan, jadi lumayan bisa buat nutupin kekurangan plus bayarin anak sekolah. Jadi intinya sampai kapanpun petani-petani kecil hidupnya tidak mungkin bisa sejahtera jika caranya begini terus. Memang mending sawahnya dijual saja besok kalau anak saya bisa usaha mending sawah dijual untuk beli kios di pasar."


Mendengar tanggapan dari petani tersebut, saya cuman bilang, "Iya emang begitu sih".


"Saya saja kan tahu sendiri kan akhirnya memang tidak bisa melanjutkan jadi petani dan lebih baik kerja dengan cara duduk-duduk begini, dan kalaupun sampai harus beli berah, toh semahal-mahalnya beras ya cuma segitu-gitu saja. Lebih tenang lagi karena tiap ada isu beras naik, demo langsung dimana-mana. Jadi semahal-mahalnya beras, pasti tidak akan bertahan lama, karena kalau sampai harga beras mahalnya kelamaan, maka bisa-bisa semua orang [selain petani] turun ke jalan demo agar beras tetap MURAH!"


Mendengar reaksi saya, petani tersebut cengar-cengir dan sambil membenarkan reaksi saya.


Dari obrolan diatas, sebenarnya memang saya berani memastikan jika sebanyak apapun dana pertanian, saya berani memastikan jika dana tersebut tidak akan mungkin mampu untuk Sejahterakan petani. Petani yang saya maksudkan tentunya petani-petani kecil sebagaimana yang saya ceritakan diatas.


Saran saya, jika memang ingin sejahterakan petani kecil, dengan dana sebesar itu, berikanlah petani-petani kecil semacam tunjangan atau "Gaji" yang bisa dirasakan langsung. 


Karena sekarang begini, Kalau secara bisnis, agar petani bisa sejahtera, maka solusi satu-satunya jika ingin sejahtera, maka NAIKAN HARGA PRODUK PETANI. Tapi cara itu bisa DIPASTIKAN tidak akan mungkin bisa terjadi!


Alasanya sederhana, setiap harga produk petani naik sedikit saja, maka demo langsung bermunculan dimana-mana!


Maka sebagaimana tulisan-tulisan saya sebelumnya, Petani itu nasibnya selamanya hanya untuk "DIINJAK-INJAK dan DIRENDAHKAN" dengan cara, Harga Produk Petani TIDAK BOLEH MAHAL.!

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.