Butuh Berapa NYAWA Lagi untuk Hentikan Total MOS yang TAK BERMUTU?

Butuh Berapa NYAWA Lagi Untuk Hentikan Total MOS yang TAK BERMUTU di Indonesia?


gambar: g+


Pertama saya ingin ikut sampaikan duka untuk keluarga Evan Cristopher Situmorang (12) yang meninggal 2 minggu setelah mengikuti MOS di SMP di Pondok Ungu, Bekasi, Jawa Barat.


Gregetan, Marah, Kecewa, dan berbagai perasaan yang ingin menghujat pihak-pihak yang masih saja mengadakan kegiatan MOS [Masa Orientasi Siswa] yang TAK BERMUTU.


Saya tegaskan bahwa tidak semua MOS itu tidak bermutu, karena saya juga tahu jika beberapa sekolah memang sudah meninggalkan MOS yang TAK BERMUTU dan sudah beralih kepada sistem MOS yang lebih bermutu dan memberikan manfaat kepada siswa baru.


Kategori MOS yang menurut saya sama sekali tidak bermutu dan bisa dikatakan hampir tak ada manfaatnya misalnya beberapa MOS yang mewajibkan siswa baru menggunakan busana aneh. Bahkan kalau saya sebut bukan aneh lagi, tapi sangat menjijikan.


Bagaimana tidak menjijikan, seorang siswa baru yang katanya dianggap sebagai calon penerus bangsa ini, justru di proses awal mereka masuk sekolah baru, bukanya diberikan pendidikan yang bermoral dan beretika, tapi justru disuruh menggunakan kostum yang mungkin lebih buruk dari orang gila sekalipun.


Jika kegiatan itu dilakukan oleh kelompok orang gila, saya sih mungkin masih memakluminya, tapi ini kan dilakukan oleh pihak sekolah yang didalamnya ada guru-guru yang katanya orang TERDIDIK dan orang berpendidikan. Apakah ini menunjukan betapa masih rendahnya kwalitas para guru di sekolah-sekolah yang masih mengadakan MOS yang Tak bermutu itu?


Sekalipun misalnya kegiatan MOS tidak sampai ada unsur kekerasan, dan hanya sebatas penggunaan kostum yang aneh-aneh seperti mirip orang gila itu, saya tetap tidak setuju. Apalagi jika sampai kegiatan itu sampai menyebabkan seorang siswa meninggal, tentunya menurut saya tidak ada ungkapan lain selain satu kata, KETERLALUAN!


Jika saya baca di pemberitaan detik.com [3/8/15], disitu disebutkan tentang pendapat keluarga yang bercerita langsung tentang bagaimana kegiatan MOS yang ada di sekolah anaknya.









Evan masuk MOS pada tanggal 6 Juli 2015 hingga tanggal 9 Juli 2015. "Anak saya dapat tugas macam-macam dari kakak kelasnya," ujar ayah Evan, Jose Feliano Situmorang saat ditemui di kediamannya di Gang 7 Sektor V, Perumahan Pondok Ungu, Bekasi Utara, Jawa Barat, Minggu (2/8/2015).


Jose mengingat anaknya saat pertama kali mendapatkan tugas dari panita MOS yaitu baju berwarna kuning dengan gantungan minion (tokoh kartun) yang dikalungkan di leher.


"Tiap hari warna bajunya ganti. Belum lagi makanannya. Perkiraan habiskan Rp 70 ribu per hari hanya untuk ikuti MOS," terangnya.


Tidak hanya itu, Evan juga mendapatkan serangkaian tugas yang tidak berhubungan dengan pendidikanya saat mengikuti MOS.


"Kadangkalah kita enggak ngerti, misalnya ada tugas membawa belatung di warnai yang ternyata isinya nasi goreng, atau membawa Udang yang diwarnai yang artinya bihun goreng," ucapnya.


"Kata anak saya kalau ada tugas yang tidak diselesaikan akan mendapatkan hukuman," sambungnya.


Salah satu hukuman yang diberikan oleh panita MOS adan scott jump. Hukuman inilah yang akhirnya membuat Evan sakit dan berujung pada kematian pada tanggal 30 Juli 2015 di samping ibunya.


Hingga saat ini, pihak sekolah belum berkomentar terkait kegiatan MOS yang dinilai sebagai salah satu pemicu meninggalnya Evan. [detikNews, 3/8/15].



Dari penjelasan diatas, saya jauh lebih percaya pengakuan keluarganya daripada harus mendengar "sangkahan/pembelaan" dari pihak sekolah. Karena pihak keluargalah yang merasakan bagaimana sakit hatinya harus melihat anaknya meninggal.  Walaupun demikian, pengusutan kasus ini harus dicari tahu oleh pihak berwenang dan dibuktikan secara medis maupun secara hukum.


Bukankah setiap orang tua siswa yang ketika mengantarkan anaknya ke sekolah dengan biaya yang tak murah, pasti berharap anaknya akan menjadi siswa yang cerdas, bermoral, dan memiliki masa depan yang cerah. Namun sayangnya, justru sekolah seolah menjadi "kuburan" untuk anaknya sendiri.


Terlebih banyaknya siswa maupun mahasiswa yang harus meninggal sia-sia karena mengikuti kegiatan yang seperti ini di Indonesia sudah sering terjadi. Anehnya, kok bisa-bisanya kegiatan yang seperti ini masih juga ada di dunia pendidikan kita?


Setiap pemberitaan seperti ini muncul ke permukaan, mulai dari guru, dinas pendidikan, hingga menteri pendidikan semua mengecam, Tapi ironisnya dan lucunya, masih saja kegiatan MOS yang tak bermutu itu masih berulang diadakan.


Saya berharap ini adalah kasus terakhir dan saya sangat muak dan mengutuk sekali jika kedepan masih saja ada model MOS yang Tak bermutu masih ada di sekolah.


Buatlah kegiatan MOS yang lebih kreatif, bermanfaat, dan memanusiakan para siswa agar mereka jadi siswa yang bermutu, cerdas, kreatif, dan inovatif, serta bermoral, bukan justru diperlakukan seperti "binatang".


Sebagai penutup, saya setuju dengan beberapa pihak orang tua yang berani menolak diselenggarakanya MOS yang TAK BERMUTU dan Mendukung adanya MOS yang Bermutu,









Jadilah Orang Tua yang berani MELARANG anaknya ikut MOS yang penuh kekerasan, bullying fisik dan mental semacamnya, baik di SD, SMP, SMA atau PERGURUAN TINGGI.

Karena MOS ini bukan bagian dari KURIKULUM NASIONAL DAN BUKAN BAGIAN DARI PENILAIAN KEBERHASILAN PENDIDIKAN. dan bukan sebuah KEWAJIBAN DARI CALON PESERTA DIDIK.

Jika kita tidak berani melarang anak mengikuti MOS yang TAK BERMUTU, itu artinya kita telah ikut melestarikan budaya kekerasan ini pada anak kita dan generasi berikutnya.



 




Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.