PILKADA, Antara Harapan dan Ancaman

PILKADA, Antara Harapan dan Ancaman



Tahun 2015 ini diagendakan akan diadakan proses Pemilihan Umum Kepala Daerah di seluruh Indonesia dan dilakukan secara serentak.


Berbagai persiapan sudah dilakukan oleh pihak Panitia penyelenggara dalam hal ini Komisi Pemilihan Umum [KPU]. Namun demikian, berbagai persoalan masih banyak yang dianggap belum maksimal.


Apalagi jika berbicara terkait dengan adanya polemik di beberapa partai politik yang masih terjadi polemik. Hal tersebut memunculkan banyaknya spekulasi dan dugaan terkait dengan kredibilitas KPU yang dianggap ikut mengatur untuk meloloskan atau tidak meloloskan partai tertentu yang saat ini masih dalam permasalahan yang belum juga usai.


Kekhwatiran lain saya terkait dengan pelaksanaan PILKADA serentak di seluruh daerah di Indonesia ini, yaitu terkait dengan anggaran dan potensi penyalahgunaan anggaran.


KPK mapun pihak terkait lainya pasti juga akan sangat mustahil mampu mengawasi setiap peluang atau celah untuk dilakukanya korupsi dana Pilkada yang tentunya tidak sedikit jumlahnya.


Adanya kasus korupsi yang menimpa beberapa kepala daerah jelang Pilkada beberapa waktu yang lalu juga menguatkan dugaan bahwa mereka yang ingin maju sebagai orang nomor satu di daerah, tentunya membutuhkan dana yang teramat sangat banyak.


Jika hal itu terjadi dan dibiarkan dan kurang diawasi, maka korupsi di berbagai daerah yang dilakukan oleh pihak-pihak yang sedang mencari dana sebesar-besarnya dalam ajang Pilkada bisa terjadi "Serentak" sebagaimana proses Pilkada itu sendiri.


Memang kalau secara teori dan pengharapan, moment Pilkada serentak ini seharusnya bisa memberikan harapan baru untuk memiliki pemimpin daerah yang terbaik dari yang terbaik.


Namun sepertinya berdasarkan perkembangan yang ada, harapan baru tersebut sepertinya masih terlalu kecil jika dibandingkan dengan Ancaman yang jauh lebih menyeramkan.


Salah satu hal ancaman yang menurut saya sangat menyeramkan yaitu ketika Kepala Daerah yang terpilih adalah orang-orang bermental Korup dan bermoral individual yang hanya ingin memperkaya diri serta memperkaya kelompok dan partai mereka.


Jika hal tersebut terjadi, maka ajang Pilkada yang seharusnya jadi ajang pemilihan Pimpinan Kepala Daerah terbaik, justru dijadikan ajang untuk berebut kekuasaan semata.


Untuk mencegah terjadinya hal tersebut, maka mulai sekarang masyarakat juga ahrus semakin cerdas dalam menyikapi berbagai proses demi proses dalam menuju pesta demokrasi bernama Pilkada yang sebentar lagi akan diadakan secara serentak di seluruh daerah di Indonesia.


Jangan pernah tergoda oleh politik uang, ingatlah bahwa ketika saat ini jika pemimpin di daerah terpilih karena membayar anda, maka itu merupakan petunjuk awal bahwa yang seperti itu akan berpotensi menjadi calon pemimpin yang super korup di daerah anda.


Carilah pemimpin yang sudah MEMBERIKAN BUKTI melalui kinerja dan moral pribadi dan keluarganya yang memang memiliki KEMAMPUAN, KEBERANIAN, serta potensi untuk memajukan daerah anda.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.