HALAL BIHALAL: Jangan Pernah Biarkan Orang Tua Lebaran Sendirian

Saya pikir kalau bicara terkait dengan arti dan pengertian dari HALAL BIHALAL bisa dipastikan sudah tahu semua. Namun yang masih banyak belum bisa [mungkin termasuk saya] yaitu mengamalkan makna dari HALAL BIHALAL itu sendiri.


Jika melakukan HALAL BIHALAL dengan teman, mungkin juga bukan hal yang sulit dan sudah biasa.


Dan yang paling sulit ketika melakukan HALAL BIHALAL biasanya dialami oleh mereka yang sudah berkeluarga, sehingga sering memiliki berjuta alasan untuk tidak bisa melakukan HALAL BIHALAL kepada orang tua yang melahirkanya saat lebaran tiba.


Saya sendiri memiliki cerita yang terkait dengan kisah mengharukan seorang tua renta yang bertahun-tahun tidak dijenguk oleh anak-anak dan cucunya sehingga justru untuk mencari bekal lebaran saja, dirinya harus berjualan sawo dan menawarkan kepada satu persatu orang yang ditemuinya [termasuk saya].


Berikut ini ceritanya, semoga bisa diambil hikmah dari cerita saya ini.


Beberapa waktu yang lalu saya berbelanja di salah satu swalayan di kotaku, sepulang berbelanja saya ditawari dagangan oleh seorang nenek-nenek yang sudah tua renta. Usianya mungkin sudah sekitar 70an tahun.


Produk yang ditawarkanya yaitu beberapa bungkus buah sawo. saya lihat sepetinya belum ada yang laku. Saya sendiri sudah agak trauma tiap akan beli buah sawo, selalu saja ketipu. Yang busuklah, yang sebagian matang sebagian mentah, bahkan pernah sampai ada yang masih keras.


Namun melihat kondisi nenek-nenek tersebut, tak tega rasanya kalau tidak membelinya. Apalagi dalam suasana puasa tentunya dengan usianya yang sudah segitu rentanya tak mudah menahan dahaga di tengah lelahnya sang nenek-nenek tersebut menawarkan daganganya.


Akhirnya saya membeli 2 bungkus plastik, sekalian saya berfikir untuk dibagikan kepada tetangga karena saya sendiri hanya tinggal dengan Ibu saya seorang sehingga tak mungkin mampu habiskan buah sawo itu sendirian.


Saat mulai awal ditawari buah tersebut oleh sang nenek, saya sempat berbincang singkat dengan sang nenek.









Saya: Nenek jualan sendirian? Anak cucunya dimana nek?


Nenek: Anak saya merantau semua, sudah pada punya anak Istri jadi jarang pulang.


Saya: Tapi sering jenguk pulang kan nek? Apalagi bentar lagi kan lebaran nek, pasti seneng dong nek pada kumpul semua besok?


Nenek: boro-boro jenguk, kirimin uang juga jarang-jarang, dikabarin saya sakit juga paling cuman nelpon kalau gak bisa pulang. Kalau lebaran juga setiap tahunya lebih sering pulang ke rumah Istrinya. Paling pulang kesini cuma tiga tahun sekali.


Saya: Emang anaknya berapa nek?


Nenek: Anak saya empat, laki-lakinya cuma satu, lainya perempuan semua. Sudah nikah semua. apalagi kalau yang perempuan sudah ikut suaminya jadi lebih jarang pulang.


Saya: Yang sabar ya nek, semoga saja lebaran besok pulang.


CATATAN: dalam cerita ini  obrolan aslinya menggunakan bahasa jawa



Setelah sedikit diskusi singkat itu, saya membayar buah sawo tersebut sambil bilang supaya uang kembalianya supaya buat nenek. Tapi saya agak kaget yang tiba-tiba saja si nenek tersebut malah bilang begini, "Gak usah mas, ini kembalianya, saya niatnya jualan kok mas, tidak niat belas kasihan. Saya sudah biasa seperti ini mas, gpp ini kembalianya diambil saja"


Inilah buah sawo yang saya beli dari sang Nenek tersebut, baru kali ini saya tidak tertipu ketika beli buah sawo, rasanya nikmat bangeeet. Terima kasih ya nek..


Mendengar jawaban nenek tersebut saya berucap dalam hati, betapa malunya saya. Akhirnya saya terus bilang, yaudah kalau gitu sisanya buat beli lagi ya nek buat tetangga saya nanti. Iya mas kalau gitu gak papa", jawab si nenek. Itupun sama si nenek-nenek tersebut masih ditambahin lagi buah sawonya. Akhirnya saya pulang.


Hikmah lain dari nenek-nenek yang saya temui diatas adalah prinsip hidupnya yang tak mau belas kasihan orang lain dan lebih memilih bekerja sendiri dengan cara halal. Padahal saat ini tidak jarang mereka yang bertubuh sehat tanpa cacat, justru lebih memilih jadi peminta-minta.


Sepanjang perjalanan saya terus membayangkan nasib tuh si nenek. Apalagi saya baru sedikit ngobrol jadi belum tahu banyak tuh nenek tinggalnya dimana, sama siapa?


Terus kalau dengar anaknya yang jarang pulang, itu kalau sakit siapa yang ngerawat? Saya juga jadi berfikir sesibuk apa sih anaknya sampai bertahun-tahun kok "kuat" dan tega bisa ninggalin Ibu Kandungnya sendiri yang sudah melahirkan dan merawatnya.


Saya memang orang yang selama ini tidak pernah bisa ninggalin orang tua lebih dari sebulan, jadi memang sangat heran ketika ada seorang anak mampu ninggalin orang tuanya hingga bertahun-tahun. Saya sendiri lebih baik keluar dari pekerjaan saya daripada harus diatur dan dibatasi ketika ingin menjenguk orang tua terlebih saat sedang sakit.


Dari cerita ini saya hanya ingin sedikit berpesan sekaligus berharap, untuk setiap anak yang saat ini sedang merantau, jika sudah terlalu lama tidak jenguk orang tua di kampung, mohon saat lebaran, melalui moment setahun sekali bernama halal bihalal, sempatkanlah pulang. Jenguk Ibu kandung dan orang tua yang sejak kecil pati tak mudah merawat kalian.


Saya memang belum memiliki anak, tapi saya bisa merasakan dan bisa membayangkan ketika saya nanti punya anak terlebih saat usia sudah lanjut, pasti menginginkan memiliki anak-anak yang perhatian dan bersedia merawat saat saya sedang sakit nanti.


Bukankah saat orang tua sudah begitu lanjut usianya, mereka setiap hari hanya seolah cuma menunggu kapan ajal menjemput dan memanggilnya. Tidakah dalam kondisi yang seperti itu sebagai anak akan tega dengan berjuta alasan untuk tidak menjenguknya, bahkan saat lebaran tiba.


Saya doakan semoga di moment lebaran kali ini, semua yang sedang merantau diberikan kelebihan rizqy dan dibukakan hatinya untuk tergerak mengingat kebaikan orang tua agar berkenan pulang di moment halal bihalal saat lebaran.


Jadikan lebaran dan halal bihalal ini sebagai moment terbaik untuk seorang anak meminta maaf terhadap orang tua yang mungkin bertahun-tahun tersakiti. Jadikan juga moment lebaran dan halal bihalal ini sebagai moment untuk para orang tua memafkan anak-anak tercinta mereka jika ada salah begitu juga sebaliknya.


Dan yang terpenting lagi, jadikan lebaran dan halal bihalal ini menjadi moment untuk membuka lembaran baru untuk membangun kebahagiaan bersama keluarga tercinta agar tidak saling megulang kesalahan yang sama di tahun-tahun berikutnya. Amiiiiin


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.