Miris! Fungsi Perpustakaan sebagai Tempat Rekreasi Terabaikan

Jangankan bermimpi memiliki perpustakaan yang bagus dengan fasilitas lengkap sebagai tempat rekreasi, untuk menyelesaikan masalah sekolah ambruk dan korupsi dana pendidikan saja, negeri ini masih dibuat kalang kabut! :-( |gambar: detikNewsTentunya ini sebuah fakta yang ada di sekitar kita yang begitu mudah ditemukan. Dimana masih banyak perpustakaan dengan kondisi yang sangat memprihatinkan.


Bahkan tidak sedikit kisah sekolah-sekolah yang katanya diklaim sebagai tempat melahirkan SDM-SDM berkwalitas di negeri ini justru masih banyak yang belum memiliki perpustakaan.


Jangankan memiliki perpustakaan dan bisa menjadi tempat rekreasi, negara sendiri hingga detik ini masih belum mampu menyelesaikan seluruh masalah-masalah berkenaan terkait sekolah yang ambruk, sekolah yang tidak layak, hingga permasalahan korupsi dana pendidikan dan dana perpustakaan yang seolah terus terbiarkan.


Melihat kondisi tersebut, tentunya masih teramat sangat jauh jika kita berharap bahwa perpustakaan pada saatnya nanti bisa menjadi dan berfungsi sebagai tempat rekreasi yang mengasyikan dan menyenangkan sebagaimana di negara-negara maju. Bukan malah sebaliknya, Perpustakaan menjadi tempat yang membosankan, menyebalkan, apalagi jika sampai mendapat predikat menyeramkan, yang demikian tentunya tidak pernah diharapkan.


Hampir setiap pustakawan tentunya sudah tahu bahwa salah satu fungsi utama perpustakaan diantaranya yaitu sebagai tempat rekreasi.


Namun sayangnya tidak semua Pustakawan mampu menciptakan dan mengelola perpustakaan mereka mampu berfungsi sebagai tempat yang menyenangkan dan mengasyikan.


[BACA JUGA: Perpustakaan di Luar Negeri]


Kebanyakan justru image perpustakaan yang memprihatinkanya lagi tidak memiliki image sebagai tempat rekreasi yang menyenangkan, tapi justru image buruk nan menyeramkan, membosankan, dan banyak kekecewaan ketika kita datang ke perpustakaan.


ini salah satu perpustakaan sekaligus pusat bermain di Mexico sehingga kesan perpustakaan begitu baik dan disukai banyak orang. |gambar: aribicara.blogdetik.com


Berbagai acara seminar, workshop, bahkan diklat berhari-hari sekalipun, sepertinya belum mampu menjadikan kegiatan yang begitu banyak tersebut untuk memperbaiki perpustakaan yang mereka kelola.


Acara-acara demi acara tersebut seolah hanya sebatas dijadikan acara ceremonial semata.


Bicara terkait fungsi Perpustakaan sebagai tempat rekreasi, mungkin sebenarnya pustakawan hanya membutuhkan praktek dan praktek dari banyaknya referensi tentang perpustakaan yang sudah terus berbenah perbaiki agar perpustakaan memiliki fungsi sebagai tempat rekreasi yang menyenangkan dan membahagiakan.


Terkait referensi tentunya sudah banyak, anda bisa juga melihat berbagai kreasi dan perbaikan yang sudah dilakukan dan dicontohkan oleh berbagai perpustakaan yang ada di negara-negara maju. Dimana di negara-negara maju tersebut, perpustakaan benar-benar memfungsikan perpustakaan secara maksimal.


Salah satu perpustakaan di Jerman yang membuat siapapun yang datang kesini akan betah dan kecanduan |gambar: duniaperpustakaan.com


Perpustakaan di negara-negara maju di bangun dengan sangat baik. Perpustakaan di negara-negara maju tersebut tak sebatas fokus pada penyediaan buku dan buku saja, tapi juga ada tempat bermain untuk anak-anak, bermain game, nonton film, pertunjukan drama, teater, dan berbagai hiburan lainya yang disukai oleh masyarakat.


Dengan cara itulah jangan heran jika image perpustakaan di negara-negara maju sangat baik dan disukai keberadaanya oleh masyarakatnya.


Kondisi tersebut tentunya berbanding terbalik dengan yang ada di negara kit, walaupun memang tidak semuanya karena beberapa perpustakaan di Indonesia juga sudah ada yang menerapkan sebagaimana yanga da di negara-negara maju.


Kebanyakan Pustakawan di negara kita seolah-olah fokus dan fokus dan memaksa masyarakat agar supaya suka membaca, namun seringkali pendekatanya yang kurang tepat.


Berbeda dengan di negara-negara maju yang mereka dengan penekanan dan pendekatan kepada apa yang disukai oleh masyarakat terlebih dahulu, dengan cara menyediakan fasilitas taman untuk bermain anak-anak, menyediakan fasilitas game, studio musik, nonton film, pertunjukan teater atau drama, sehingga masyarakat dengan sendirinya berbondong-bondong datang ke perpustakaan.


Begitu masyarakat sudah berbondong-bondong berkunjung ke perpustakaan, maka tidak perlu dipaksa, dengan sendiri secara bertahap, mereka juga akan memanfaatkan fasilitas lainya seperti buku, koneksi internet yang cepat, serta berbagai fasilitas lainya.


Tidak hanya berhenti sampai disitu saja, pelayanan dan kemampuan SDM di perpustakaan-perpustakaan negara maju juga sangat baik. Berbagai kesaksian mahasiswa di Indonesia atau masyarakat umum yang pernah ke negara-negara maju tersebut, mereka memiliki kesan jika pelayanan dari pustakawan begitu sangat ramah seperti pelayanan di bank-bank.


Melalui tulisan ini penulis juga hanya ingin berharap bahwa kedepan pustakawan maupun pihak-pihak terkait yang memang memiliki wewenang penuh untuk memajukan perpustakaan agar terus memperbaiki diri mereka serta fasilitas yang ada di perpustakaan mereka.


Jangan sampai pustakawan di negeri ini hanya iri dengan prestasi dan kenyamanan serta keindahan dari perpustakaan-perpustakaan yang ada di negara maju, akan tetapi tidak pernah iri dengan CARA dan kerja keras pustakawan di negara maju terkait bagaimana mereka bisa melahirkan perpustakaan yang maju dan disukai oleh masyarakatnya.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.