Membangun Indonesia Harusnya Dimulai dari Desa! Tapi..

Membangun Indonesia Harusnya Dimulai dari Desa! Tapi..


Karena di kampung saya hampir semua remaja dan pemuda merantau, maka anak-anak diikut sertakan oleh orang tuanya untuk Kerja bakti dan Gotong Royong membangun jalan gang secara mandiri. Tapi anak-anak sama sekali tanpa paksaan dan mereka justru merasa senang |gambar: koleksi pribadiDi kampung saya, hampir rata-rata begitu lulus sekolah tingkat SLTA [sederajat], hampir semuanya berbondong-bondong pergi ke kota. Tujuanya sudah pasti mencari kerja, jangan ditanya untuk yang kuliah karena hampir rata-rata memang bekerja.

Akibat banyaknya remaja dan pemuda desa yang merantau, kegiatan remaja di desa juga "mati suri" dan hampir tak ada kegiatan. Biasanya aktivitas remaja di desa hanya dilakukan oleh beberapa aktifitas pelajar SMP dan SLTA saja, itupun hanya sebatas kegiatan-kegiatan remaja mushola [langgar] yang jumlahnya tidak lebih dari 10 anak yang aktif.

Saya sendiri karena memang sering tinggal di kampung, sedikit tahu tentang kondisi kampung saya yang memang nyaris tak ada lapangan kerja.

Anak-anak di kampungku yang rata-rata disini merupakan anak petani, hampir 100% tidak ada yang mau jadi petani.

Alasanya sederhana, menjadi petani di kampung panen hanya 4-5 bulan sekali, sedangkan kebutuhan harus dipenuhi setiap hari. Itu kenapa tidak heran, begitu musim panen, padi di jual dengan harga yang sangat murah sehingga bisa-bisa uang hasil panen hanya cukup biaya hidup sebulan, bahkan lebih sering kurang.

Kelompok petani apalagi penyuluhan untuk para petani, disini sama sekali tidak pernah disentuh oleh dinas pertanian. Para petani disini semua serba mandiri, mulai dari cara menanam, menyemai, pemupukan, bahkan ketika ada banyak serangan hama padi, tikus, dan yang lainya, petani hanya bisa pasrah.

Jalan kampung yang menghubungkan antar desa dan pedukuhan juga hampir rata-rata sudah rusak parah. Hanya di jalan utama desa saja yang beberapa saat lalu sudah di perbaiki, tapi untuk masuk jalan pedukuhan, hampir semuanya rusak parah selama bertahun-ahun tanpa perbaikan.

Di RT/RW saya sendiri, sebenarnya untuk pembangunan jalan antar gang, hampir semuanya sudah kita perbaiki secara mandiri dan bergotong royong. Bahkan dalam beberapa pembangunanya, warga di tempat kami harus melibatkan anak-anak yang masih kecil. Hal ini dilakukan karena memang di RT/RW kami tak ada remaja karena hampir semuanya merantau.


Sedangkan di jalan utama kampung kami, jalanya begitu rusak parah, apalagi beberapa saat yang lalu, jalan desa kami sering dilewati oleh crosser-crosser yang ugal-ugalan melalui jalan kami sehingga menyebabkan jalan yang sudah rusak menjadi semakin rusak parah tanpa ada perbaikan.



Video diatas menggambarkan kondisi jalan kampung kami yang sudah rusak parah, tapi malah buat jalur crosser yang ugal-ugalan. Video diatas saya rekam setahun yang lalu dan hingga sekarang kondisi jalan belum pernah diperbaiki.


Padahal untuk membangun jalan aspal tersebut, saya masih ingat bahwa setiap warga dimintai dana rata-rata sekitar Rp 200 ribu. Itupun sebelumnya juga kami sudah dimintai iuran tiap bulanya.

Saya jadi berfikir jika di kampung saya, peran negara seolah tidak ada selain peran untuk membantu mengurusi soal pembuatan KTP, Akte kelahiran dan yang bersifat remeh temeh?.


Padahal di kampung saya juga sebenarnya ada potensi kesenian yang dikenal "Kesenian Janeng", tapi karena memang tidak ada pendampingan dan hanya dikelola secara asal-asalan, maka potensi kesenian Janeng di kampung kami juga tidak jalan.



Paling sesekali hanya digunakan ketika ada warga yang mengundang sebagai pengisi hiburan saat ada resepsi pernikahan atau saat ada perayaan hari-hari besar Islam.


Selain itu, di desa kami juga ada potensi wisata desa yang cukup mengagumkan dan unik bernama Kedung Dawa, yaitu sebuah sungai yang bertingkat-tingkat dan banyak batu-batu berlobang yang sangat aneh yang hinga sekarang belum diketahui kenapa terjadinya fenomena tersebut.



Sayangnya karena memang tidak dikelola, akhirnya juga tidak memberikan pendapatan untuk desa maupun warga sekitar. Padahal jika dikelola dengan baik, tentunya itu bisa memberikan pemasukan kas desa serta membuka peluang lapangan kerja yang lainya.


Tidak hanya itu saja, koneksi internet di pedesaan juga sulit didapat. Padahal jika dana Rp 1 Miliar yang katanya akan didapat oleh desa di setiap tahunya dikelola dengan baik, pihak desa bisa memberikan fasilitas Perpustakaan Desa yang dilengkapi dengan komputer dan koneksi internet gratis.


Hal ini juga sebenarnya sudah dilakukan di beberapa desa misalnya di daerah Gunungkidul Yogyakarta. Disana ada sebuah Perpustakaan Desa yang dikelola dengan sangat baik sehingga perpustakaan desa tersebut menjadi tempat untuk mencari informasi melalui buku dan internet. Bahkan pihak pengelola perpustakaan desa juga memberikan kegiatan pelatihan pertanian, komputer untuk pelajar hingga les bahasa asing gratis.


Namun sayangnya, kondisi tersebut masih belum begitu menyebar di daerah-daerah di Indonesia, termasuk di daerah saya, dimana masih terlalu banyak masalah yang ada di desa.

Dari gambaran tentang kondisi yang ada di kampung saya ini, ketika saya ceritakan ke teman-teman saya dari luar daerah, ternyata kondisi yang hampir sama dengan apa yang terjadi di desa mereka.

Saya sendiri kadang juga jadi berfikir, jika di setiap desa benar-benar mendapatkan bantuan Rp 1 Milyar di setiap tahunya, apakah dana tersebut mampu untuk memajukan Desa?


Saya sangat yakin, jika dana Rp 1 Milyar benar-benar dicairkan di setiap desa setiap tahunya, kemudian dana tersebut juga dikelola dengan baik dan tepat sasaran. Saya sangat yakin desa bisa cepat maju dan berkembang dan tidak kalah dengan kota.

Namun pertanyaanya, Mungkinkah dana Rp 1 Milyar untuk desa yang katanya akan cair di setiap tahunya itu mampu dikelola dengan baik tanpa DIKORUPSI?

Apakah dana sebanyak itu yang seharusnya mampu membantu untuk memecahkan masalah-masalah yang ada di desa sebagaimana yang saya uraikan diatas digunakan dengan baik dan tepat guna?

Jawaban atas pertanyaan itulah yang kemudian saya menjadi pesimis, bahwa dalam kondisi mulai dari birokrasi di pusat hingga tingkat desa, mental KORUP birokrasi kita sulit untuk bisa dipercaya jika dalam proses pencairan dana-dana desa itu tanpa DIKORUPSI.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.