Antara Air Mata Buffon dan Pirlo, serta Senyum Bahagia Xavi

Antara Air Mata Buffon dan Pirlo, serta Senyum Bahagia Xavi


Air Mata Buffon dan Senyum Xavi adalah gambaran sebuah akhir perebutan gelar juara dalam sepak bola, ada yang menangis karena kegagalan, ada senyum bahagia untuk mereka yang meraih kemenanganAkhirnya Final Liga Champions musim 2014/2015 sudah berakhir. Barcelona secara resmi sudah meraih juara sekaligus mencapai kesempurnaan dengan gelar Treble yang diraihnya musim ini.


Berkat kemenanga tersebut tentunya sebuah kegembiraan untuk Barcelona sekaligus kegembiraan untuk seluruh penggemar Barcelona di seluruh penjuru dunia.


Namun kegembiraan tersebut tentunya tidak untuk Juventus dan para pendukungnya. Kesempatan Juventus untuk meraih gelar Treble hancur sudah bersamaan dengan kekalahan 3-1 atas Barcelona di Final Liga Champions kemarin.


Kesempatan yang entah kapan lagi datangnya, tak seorangpun mampu bisa tepat menabaknya.


Dengan kegagalan Juventus meraih gelar Treble ini tentunya sebuah Kesedihan untuk Juventus dan seluruh penggemarnya. Namun lebih khusus lagi kesedihan tersebut dirasakan oleh pemain Juventus Pirlo dan penjaga gawangnya, Gianluigi Buffon.


Kesedihan Bufon dan Pirlo tentunya wajar karena pertandingan Final Liga Champions merupakan pertandingan sekaligus kesempatan yang sangat sulit diraih. Butuh bertahun-tahun untuk mendapatkan kesempatan bisa mencapai final, tapi akhirnya kesempatan itu hancur dalam semalam.


Ya, khusus bagi Buffon, tentunya ini Kesedihan dan duka yang mungkin hanya Buffon dan para penggemar yang mampu merasakanya. Apalagi jika membaca kesedihan Buffon yang sudah "terwakilkan" dalam tulisan berjudul "Trofi Liga Champions, Lubang Kecil dalam Karier Buffon' yang ditulis oleh Frasetya Vady Aditya, detikSport [Minggu, 07/06/2015].


Sebuah ulasan yang mampu menetskan air mata siapapun yang bisa merasakan kesedihan dan duka juga air mata Buffon saat harus menerima kekalahan atas Barcelona yang menghapus mimpinya mengangkat piala juara.


Namun saya sepakat dengan ulasan dari Frasetya Vady Aditya, detikSport [Minggu, 07/06/2015] bahwa tanpa gelar juara di Liga Champions, dunia pasti akan mengingat Gianluigi Bufon sebagai legenda Kiper terbaik Dunia. Tanpa gelar juara Liga Champions sekalipun, saya sendiri sebagai orang yang mengagumi akan tetap bangga sebagai bagian dari orang yang mengidolakan aksi-aksi Buffon sepanjang karirnya.


Dibalik kesedihan Buffon dan Pirlo, di Barcelona tengah berlangsung sebuah suasana yang teramat sangat berbanding terbalik tentunya. Dimana seluruh tim Barcelona tengah berbahagia atas gelar Treble mereka.


Namun lebih special lagi tentunya dirasakan oleh Xavi Hernandez, dimana sebagaimana kabar kepastian kepindahan Xavi yang akan hengkang dari Barcelona, tentunya gelar Treble yang diraih bersamaan dengan gelar Juara LigaChampions adalah kado terindah sepanjang karirnya selama berada di Barcelona.


Dengan pencapaian tersebut, tentunya Xavi Hernandez bisa berkarir di club barunya nanti dengan lebih percaya diri dan dengan kepuasaan serta semangat yang sangat tinggi agar dirinya kedepan di club barunya juga bisa meraih prestasi yang serupa.


Antara kesedihan Buffon, Pirlo, serta senyum kebahagiaan Xavi Hernandes adalah sebuah peristiwa yang akan terus berulang pada sebuah momment penting dalam setiap karir pemain sepak bola. Dimana selalu ada kabar bahagia dari para pemenang dan peraih juara, namun sebaliknya, selalu ada air mata dan duka bagi tim yang harus menerima kekalahanya.


Dan kesedihan serta kebahagiaan itu tidak hanya dirasakan oleh tim dan klub semata, melainkan para penggemar juga akan ikut merasakanya.


Air Mata Buffon dan Senyum Xavi adalah gambaran sebuah akhir perebutan gelar juara dalam sepak bola, ada yang menangis karena kegagalan, ada senyum bahagia untuk mereka yang meraih kemenangan. Inilah Sepak Bola!

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.