Kebangkitan Nasional Tidak Bisa Diraih Hanya dengan Seremonial Saja!

INGIN DAPATKAN SAMSUNG GALAXY S6 EDGE GRATIS? BACA CARANYA MELALUI TULISAN INI DI AKHIR TULISAN [BANNER]


ilustrasi: partaigolput.wordpressHari ini tanggal 20 Mei 2015 diperingati Hari Kebangkitan Nasional ke-107. Namun walaupun sudah berkali-kali dirayakan dengan biaya ceremonial yang tidak sedikit, tetap saja greget dan perubahan serta efect dari perayaan Hari Kebangkitan Nasional dari tahun ke tahun masih belum begitu terasa.


Melalui tulisan ini saya tegaskan bahwa tulisan ini sama sekali bukan bermaksud bahwa perayaan dan memperingati Hari Kebangkitan Nasional bukan sesuatu yang tidak penting. Memperingati Hari Kebangkitan Nasional itu memang diperlukan, namun tidak berhenti hanya sebatas seremonial saja.


Agar kita tidak terjebak pada peringatan Hari kebangkitan Nasional yang sebatas seremonial saja, maka ada baiknya mari kita mengenang sedikit terkait dengan Sejarah ditetapkanya Hari Kebangkitan Nasional.


Sejarah Hari Kebangkitan Nasional


Sejarah terkait dengan Hari Kebangkitan Nasional didahului dengan sejarah berdirinya partai politik pertama di Indonesia yang saat itu masih bernama Hindia Belanda. Partai politik yang dimaksud yaitu bernama Indische Partij yang berdiri Pada tahun 1912.


Pada tahun 1912 itu juga secara hampir serentak dan bersama-sama, Haji Samanhudi mendirikan Sarekat Dagang Islam (di Solo), KH Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah (di Yogyakarta), Dwijo Sewoyo dan kawan-kawan mendirikan Asuransi Jiwa Bersama Boemi Poetra di Magelang.


Kebangkitan pergerakan nasional Indonesia tersebut bukan berawal dari berdirinya Boedi Oetomo, tapi sebenarnya diawali dengan berdirinya Sarekat Dagang Islam pada tahun 1905 di Pasar Laweyan, Solo. Sarekat ini awalnya berdiri untuk menandingi dominasi pedagang Cina pada waktu itu. Kemudian berkembang menjadi organisasi pergerakan sehingga pada tahun 1906 berubah nama menjadi Sarekat Islam.


Suwardi Suryaningrat yang tergabung dalam Komite Boemi Poetera, menulis "Als ik eens Nederlander was" ("Seandainya aku seorang Belanda"), pada tanggal 20 Juli 1913 yang memprotes keras rencana pemerintah Hindia Belanda merayakan 100 tahun kemerdekaan Belanda di Hindia Belanda. Karena tulisan inilah dr. Tjipto Mangunkusumo dan Suwardi Suryaningrat dihukum dan diasingkan ke Banda dan Bangka, tetapi karena "boleh memilih", keduanya dibuang ke Negeri Belanda. Di sana Suwardi justru belajar ilmu pendidikan dan dr. Tjipto karena sakit dipulangkan ke Hindia Belanda.  


Saat ini, tanggal berdirinya Boedi Oetomo, 20 Mei, dijadikan sebagai Hari Kebangkitan Nasional. [sumber bacaan: wikipedia]


Setelah membaca singkat terkait dengan Sejarah Hari Kebangkitan Nasional tersebut tentunya kita sudah mendapatkan gambaran makna dan substansi dari perayaan Hari Kebangkitan Nasional yang dirayakan setiap tanggal 20 Mei.


Secara jelas melalui sejarah tersebut bahwa saat itu berbagai pergerakan yang dibangun oleh para pendahulu bangsa ini begitu sangat penting dan memiliki peran yang sangat besar dalam membangun bangsa kita, Negara Kesatuan Republik Indonesia.


Berbagai pergerakan dan organisasi yang lahir secara hampir serentak dan bersama-sama tersebut langsung membawa dampak yang luar biasa. Melalui pergerakan-pergerakan itu pula semangat perjuangan dari seluruh rakyat Indonesia untuk berjuang dan terbebas dari segala bentuk penjajahan terus dilakukan.


Nah, sekarang mari kita lihat dan bandingkan dengan kondisi bangsa kita saat ini. Kalau saya boleh merinci, beberapa pergerakan yang sempat heboh dan saat itu sempat diharapkan membawa perubahan sebagaimana pergerakan yang dilakukan oleh Boedi Oetomo dkk saat itu, yaitu ketika adanya gerakan Reformasi 1998 yang lalu.


Menurut  saya pribadi, hanya pergerakan itu yang memang saat itu memberikan harapan baru untuk Indonesia yang semakin baik lagi.
Namun kalau boleh saya mengucapkan kekecewaan saya, ternyata harapan itu hingga sekarang semakin redup dan semakin sirna menghilang karena melihat kondisi negeriku yang justru semakin mengenaskan :-(


Perayaan Hari Kebangkitan Nasional yang hingga tahun 2015 ini sudah dirayakan hingga ke 107 kali selama ini saya nilai masih hanya sebatas seremonial yang secara substansi maknanya tak memberi dampak untuk kemajuan sebuah bangsa.


Terkait kondisi Indonesia yang sekarang, saya sudah mengutrakanya dalam tulisan saya sebelumnya berjudul, "Inilah Kegagalan-Kegagalan Indonesia yang Terlalu SANGAT Menyedihkan!".


Inilah Kegagalan-Kegagalan Indonesia yang Terlalu SANGAT Menyedihkan! - See more at: http://new.aribicara.blogdetik.com/#sthash.5SJYn5Gr.dpuf

Inilah Kegagalan-Kegagalan Indonesia yang Terlalu SANGAT Menyedihkan! - See more at: http://new.aribicara.blogdetik.com/#sthash.5SJYn5Gr.dpuf

Dalam tulisan tersebut sudah saya rinci hal-hal yang teramat sangat memprihatinkan serta mengenaskanya kondisi bangsa kita ini.


Bayangkan saja, kita bangsa dengan jumlah penduduk mayoritas berprofesi sebagai petani dan berkebun, tapi justru produk-produk pertanian dan perkebunan justru masih import.


Kita juga disebut sebagai bangsa dan negeri yang kaya dengan lautnya yang begitu luas dari sabang sampai merauke, tapi ironisnya, untuk memenuhi garam saja kita masih import!


Melihat kondisi yang demikian itu, bagaimana mungkin kita berani merayakan Hari Kebangkitan Nasional?


Tidak malukah para pejabat negeri ini dengan kondisi yang demikian?
Jika memang ingin memaknai Hari Kebangkitan Nasional ini dengan tidak sebatas seremonial saja, maka coba selesaikan masalah-masalah yang mendasar tersebut sebagai bukti bahwa di negeri ini ada sebuah kebangkitan dari para pengelola negeri ini dan seluruh lapisan masyarakat tentang adanya Kebangkitan Nasional tersebut.


Disertai rasa pesimis, saya tetap masih berharap semoga saja ada sosok-sosok maupun tokoh-tokoh bangsa ini yang benar-benar menjadikan Hari Kebangkitan Nasional kali ini sebagai semangat untuk membuat perubahan-perubahan yang signifikan untuk memperbaiki bangsa ini sebagaimana para pejuang-pejuang terdahulu.


Semoga!

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.