Mungkinkah Proyek Tanpa SUAP dan Korupsi di Indonesia?

4e5d55b64d335c42cbc1289cdd8bff1a_suapAwalnya saya sudah agak alergi kalau bikin tulisan dengan tema terkait suap dan korupsi. Apalagi beberapa hari yang lalu barusaja saya ngobrol dengan salah satu teman programmer yang harus keluar dari perusahaan karena ideologinya yang memang memegang prinsip untuk tidak menerima suap.

Teman saya tersebut bercerita saat bekerja seringkali selalu dimintai uang oleh beberapa pihak yang memberikan dia proyek. Karena sikap dan prinsip hidupnya yang memang begitu sangat idealis, akhirnya dirinya memutuskan untuk mengundurkan diri dan ingin bekerja mandiri.

Yang membuat saya salut dengan teman saya yang satu ini, dirinya tidak ingin memberikan nafkah kepada Istri dan 2 orang anak tercintanya dengan uang HARAM !

Saya sendiri yang juga hampir mengalami cerita yang hampir sama juga memutuskan keluar dari pekerjaan saya dan lebih baik usaha sendiri.

Saya sendiri membuat tulisan ini karena barusaja sangat gregetan membaca informasi terkait adanya berita di detik.com yaitu "Penyidik Tipikor Polda Kalteng menangkap sejumlah DPRD Kapuas, Kalteng yang menerima suap miliaran rupiah. Mereka ditangkap terkait pengaturan proyek di anggaran daerah" [detik.com/27/11/14].

Membaca itu saya langsung teringat pengalaman saya sendiri dan juga teman saya sebagaimana saya sebut diatas.

Dalam hati kecil saya juga jadi ingin bertanya, "Mungkinkah Proyek di Indonesia tanpa Suap?"

Saya juga berharap ada diantara pembaca yang bersedia bercerita tentang kondisi Indonesia saat ini. Saat KPK berkali-kali menangkap para koruptor dan pelaku pemberi suap, apakah perilaku suap di Indonesia masih terus berlangsung?

Jika saya mencoba berdiskusi dengan teman-teman saya, hampir sama-sama serempak kompak dan meyakini bahwa suap dalam proyek di Indonesia diyakini akan selalu ada. Kalaupun masih ada pihak yang memang bersih dan tidak mau menerima suap, akan tetapi keyakinan banyak teman-teman yang saya temui masih banyak yang menerima suap daripada yang tidak.

Saya kemarin juga sempat membaca iklan dari LPSE yang katanya akan menjadikan pahlawan untuk pihak yang berani membongkar kasus korupsi dalam setiap proyek pemerintah. Namun setelah informasi ini saya sampaikan ke beberapa teman saya yang pernah memiliki pengalaman terkait banyaknya suap di setiap proyek, pemberian gelar pahlawan tersebut untuk mereka yang berani membongkar kasus suap tidaklah cukup.

Alasanya simpel saja, anda tentunya tahu bagaimana resiko dari seorang yang berani melaporkan kasus suap atau korupsi di lembaga-lembaga pemerintah?

Resiko yang didapat bukan hanya ancaman dilaporkan balik hingga ancaman nyawa sebagai taruhan jika berani membongkar kasus-kasus suap dan korupsi di lembaga-lembaga pemerintah.

Mungkin saja pemerintah akan bilang dan menjanjikan supaya dilindungi nyawa si pelapor, namun tetap saja itu tidaklah cukup karena resikonya memang terlalu besar.

Mungkin kalau saya boleh usul, selain diberikan gelar pahlawan dan dilindungi keamananya oleh negara, pihak-pihak yang berani membongkar atau memberikan informasi terkait kasus suap dan korupsi harusnya diberikan juga uang untuk motivasi.

Saya yakin jika pemerintah berani lakukan ini, akan semakin banyak koruptor dan pelaku suap di negeri ini yang tertangkap berkat adanya informasi dari masyarakat. Tentunya pemberian uang kepada informan diberikan setelah informasi yang diberikan memang benar dan bisa terbukti.

Itulah menurut saya solusi untuk mengurangi peluang para koruptor dan pelaku suap dalam setiap proyek di Indonesia. Cara lain tentunya diantaranya Hukum MATI Koruptor dan pelaku suap. Tapi untuk yang satu ini, kita masih bermimpi karena pelaku koruptor tetap saja masih diistimewakan.

Buktinya sudah nyata dan teramat sangat jelas, lihatlah tayangan mata najwa yang sudah pernah melakukan sidak ke penjara-penajra koruptor. Didalam sel mereka tidur di kasur yang empuk dengan fasilitas AC, kamar mandi dan WC yang lebih mewah daripada tempat tidur banyak rakyat kebanyakan.

Jika memang hukum ini ADIL dan TEGAS untuk pelaku kejahatan, saya teramat sangat menunggu bagaimana si pelaku koruptor seharusnya dimasukan kedalam sel dengan fasilitas yang sama dengan maling ayam, bahkan seharusnya teramat sangat jauh lebih buruk dari sel pelaku pencurian ayam. Hal itu karena kejahatan koruptor itu memang termat sangat jauh lebih sadis daripada hanya seorang pencuri ayam.

Ilustrasi gambar: googleusercontent.com

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.