Kapan Dewan Perwakilan Rakyat Bisa Menjadi Wakil Rakyat?

c25a1dd2a58f8736a534d0ed5685e3d6_kapan-dewan-perwakilan-rakyat-menjadi-wakili-rakyatLagi-lagi rasanya tak ada habisnya untuk menghujat atas perilaku buruknya anggota DPR yang mengklaim diri mereka sebagai wakil rakyat. Saya sendiri juga sudah kehabisan kata bagaimana menyusun kata untuk menggambarkan tentang perilaku anggota DPR yang semakin menyebalkan.

Saat Presiden Jokowi dan para kabinet kerjanya sudah sibuk bekerja dan bekerja, anggota DPR justru masih sibuk berebut ketua komisi. Tidak berlebihan jika selama sebulan dilantik jadi anggota DPR, banyak masyarakat yang berpendapat anggota DPR hanya akan memakan gaji buta.

Mungkin boleh saja anggota DPR membuat pembelaan jika mereka memang selama sebulan ini mereka telah bekerja. Jika anggota DPR merasa begitu, maka dengan sangat mudah berarti sebagai rakyat memang tidak salah jika memang itulah kinerja anggota DPR kita?

Apapun dalih dan pembenaran atas kekisruhan dan perebutan dalam pemilihan pimpinan ketua komisi hingga munculnya istilah DPR tandingan, bagi kami sebagai rakyat sangatlah tidak penting. Satu-satunya kekisruhan anggota DPR selama sebulan ini yang kami anggap penting yaitu bahwa kami tahu mental dan apa sebenrnya tujuan dari anggota DPR dalam berpolitik.

Baik kubu koalisi Merah Putih maupun dari kubu Koalisi Indonesia Hebat, bagi saya mereka semuanya sangat tidak menggambarkan sebagai wakil rakyat. Mereka hanya menunjukan diri mereka yang sejatinya yaitu dalam berpolitik seolah-olah hanya berebut kekuasaan dan kekuasaan.

Selain anggota DPR yang mempertontonkan perilaku mereka yang begitu haus akan kekuasaan, kita juga dengan sangat mudah melihat bahwa anggota DPR lebih menunjukan bahwa mereka seolah bukan wakil rakyat melainkan benar-benar hanya wakil partai.

Anggota DPR yang selalu beranggapan jika mereka adalah wakil rakyat, akan tetapi perilaku mereka menunjukan mereka adalah orang-orang yang berburu kekuasaan dan hanya menjadi wakil partai.

Dengan adanya perebutan ketua komisi dan munculnya ketua DPR tandingan menegaskan bahwa kekuasaanlah yang mereka kejar untuk mencapai kepentingan tujuan partai mereka.

Jika mereka benar-benar mementingkan kepentingan rakyat, maka perebutan ketua komisi tidaklah perlu terjadi. Kedua belah pihak baik dari kubu KMP atau pihak KIH benar-benar membuat mereka yang sebelumnya memilih mereka agar mewakili mereka di parlemen justru melupakan suara rakyat yang memilihnya.

Jika kondisi ini akan terus berlangsung, maka jangan salahkan rakyat jika selama mereka tidak merubah, maka citra buruk anggota DPR dimata rakyat akan terus buruk bahkan semakin buruk.

Terpilihnya anggota DPR baru pada Pemilu Legislatif 2014 yang diharapkan membawa perubahan yang lebih baik justru pada awal kerja mereka sudah mempertontonkan perilaku buruk mereka. Tidak bisa dibayangkan bagaimana kinerja mereka kedepan selama 5 tahun menjabat nantinya.

Tentunya kita juga tidak akan pernah melupakan bahwa image dan citra buruk DPR dibentuk oleh perilaku dan kinerja mereka. Selama kinerja dan perilaku mereka tidak berubah dan justru semakin buruk, maka pada pemilu-pemilu selanjutnya sangat mungkin angka golput akan semakin meningkat lagi.

Sebagai catatan dan sebagai ingatan kita bahwa citra buruk anggota DPR dari tahun ke tahun dengan snagat mudah kita temukan. Perilaku buruk mereka yang tidak akan pernah kita lupakan diantaranya mulai dari kasus korupsi anggota DPR, skandal Sexx, Video Porrno, Adu jotos, tidur saat sidang, Absen saat sidang, hingga perebutan pimpinan komisi yang semakin hari semakin memuakan.

Jika sudah seperti itu, tentunya kita akan selalu bertanya dan menunggu jawaban atas sebuah pertanyaan, "Kapan Dewan Perwakilan Rakyat Menjadi Wakili Rakyat?".

Kami tidak membutuhkan jawaban dengan lisan karena kami sebagai rakyat akan selalu mendapatkan jawaban dengan perilaku buruk dan kinerja buruk kalian sebagai anggota dewan.

ilustrasi gambar | detikfoto.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.