Hujan Datang, Banjir Datang, Budaya Saling Menyalahkan Terus Terulang?

a2f71646e6ce555b46fdf80b0d9c8e46_banjirMusim hujang telah datang, itu artinya di daerah-daerah berlangganan banjir tentunya yang diingat saat musim hujan adalah bahaya banjir yang akan mengancam.


Jika kita mau belajar dari sejarah dan pengalaman, tentunya bencana banjir di Indonesia sudah teramat sering terjadi. Ketika kita bicara banjir, saya berharap jangan hanya bicara soal banjir yang ada di Jakarta saja. Walaupun itu sah-sah saja karena kenyataanya di Jakarta memang setiap musim hujan sudah identik dengan banjir. Namun saya berharap kepada pembaca harus ingat bahwa bencana banjir dari waktu ke waktu bukan lagi hanya terjadi di Jakarta melainkan hampir di berbagai daerah di Indonesia.


Kita tentunya masih ingat tentang tragedi berbagai banjir bandang yang menimpa seperti yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia yang jumlahnya sudah teramat sangat banyak. Yang terbaru adalah di Aceh beberapa waktu yang lalu.


Jika anda masih kekurangan data terkait bencana banjir di Indonesia, silahkan anda googling dengan kata kunci Banjir atau Banjir Bandang, anda akan menemukan puluhan bahkan mungkin ratusan pemberitaan yang semuanya membicarakan dan mengabarkan tentang musibah banjir yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia.


Musibah banjir yang sebenarnya penanganan dan antisipasinya teramat sangatlah MUDAH, namun untuk melaksanakan dan mempraktekanya SANGATLAH SULIT.


Saya berani katakan bahwa untuk mencegah terjadinya banjir itu memang sangatlah mudah dan saya pastikan setiap orang ketika ditanya bagaimana cara mencegah terjadinya banjir, mereka pasti tahu dan bisa menjawabnya dengan sangat mudah.


Jawaban-jawaban terkait cara mencegah banjir sudah diajarkan sejak kita duduk di bangku taman kanak-kanak, namun untuk mempraktekanya hingga detik ini masyarakat kita masih belum mampu melakukanya. Bukti ini bisa dilihat denga masih banyaknya banjir yang terjadi dimana-mana.


Apakah saya harus menuliskan disini bahwa untuk mencegah terjadinya banjir yaitu dengan cara; membuang sampah pada tempatnya, membersihkan sungai da irigasi, melakukan penghijauan dan penanaman pohon, hentikan penebangan pohon yang berlebihan, seimbangkan jumlah resapan dengan jumlah pembangunan gedung di perkotaan, dan masih banyak sekali cara-cara untuk mencegah terjadinya banjir. Namun dari banyaknya cara tersebut, hanya berapa persen kita mampu melakukanya.


Cobalah kita koreksi dari cara yang teramat sangat sederhana yaitu terkait budaya membuang sampah pada tempatnya. Dari budaya ini saja, bisa dikatakan dari jumlah ratusan juta penduduk di Indonesia, hanya berapa persen yang sudah bisa konsisten untuk selalu membuang sampah pada tempatnya?


Akan menjadi lebih rumit lagi ketika kita bicara kepada hal yang lebih besar lagi misalkan terkait dengan penebangan hutan secara besar-besaran, hal ini tentunya akan lebih sulit lagi untuk melakukan pencegahanya. Padahal jika kita melihat banjir-banjir bandang di Indonesia, banyak diantaranya itu ternyata daerah-daerah yang sebelumnya dikenal dengan kepemilikan hutan mereka yang besar. Namun ternyata karena banyaknya penebangan pohon secara besar-besaran di hutan-hutan tersebut, maka akibatnya banjir bandang terus terjadi.


Jika kita semua sudah menyadari kondisi tersebut, tentunya kita harus sama-sama koreksi diri bahwa memang kitalah sebenarnya penyebab dari adanya musibah banjir.


Bahkan jika kita harus berani jujur mengakuinya, bahwa siapapun mereka yang pernah membuang sampah sembarangan walau hanya satu bungkus permen sekalipun, mereka adalah bagian dan sudah terlibat menjadi orang yang menyebabkan terjadinya banjir. Dan saya juga harus mengakui jika saya juga pernah melakukan itu.


Jika sekarang dari diri kita sudah berkenan untuk koreksi diri atas kebiasaan buruk kita membuang sampah, dan kemudian kita berani merubah kebiasaan diri kita dengan membuang sampah pada tempatnya, tentunya kita tidak akan sempat lagi untuk mencari kesalahan-kesalahan pihak lain.


Akan berbeda jika memang kita sudah hidup dengan budaya membuang sampah pada tempatnya bisa menjadi budaya setiap warga negara Indonesia, maka bolehlah dan sangat wajar jika kita berani mengkritik pemerintah atau pihak lain yang memang menciptakan penyebab terjadinya banjir. Misalnya jika masyarakat sudah membudayakan membuang sampah pada tempatnya akan tetapi pemerintah tidak menyediakan tempat sampah yang baik, maka kita boleh mengkritik pemerintah untuk menyediakan tempat sampah yang banyak dan mencukupi.



21697b32ac0cde177e6c2f754baf7d04_sungai-dulu-dan-sekarang

Lihatlah sungai yang dulunya penuh sampah sekarang sudah dibersihkan. Jika sudah bersih kemudian kotor lagi, siapa yang melakukanya jika bukan warga?


d84a4293ffe9cd95f3a32f5a84867b1c_waduk-dulu-dan-sekarang


Lihatlah waduk yang sebelumnya dan yang sekarang, jika pemerintah sudah membersihkanya, sudah kewajiban warga negaralah yang harus terus terlibat menjaganya agar tetap bersih dengan cara yang teramat sangat mudah dan sederhana yaitu membuang sampah pad atempatnya. |Gambar: Kaskus.


Demikian juga jika misalnya pemerintah sudah menyediakan tempat sampah, sudah menyediakan parit dan pembuangan air yang bagus dan rapi, pemerintah juga sudah membersihkan sungai dari sampah, akan tetapi tetap masih banjir juga, maka pemerintah boleh menyalahkan pihak-pihak lain yang memang jadi penyebab banjir. Misalnya mungkin para pengembang perumahan atau vila di tempat-tempat yang seharusnya jadi ruang hijau dan daerah resapan, yang demikian itu tentunya pemerintah berhak memperingatkan bahkan menyalahkan juga memberikan hukuman kepadapihak-pihak tersebut.


Jika kita sudah terbiasa dengan pemikiran dan perilaku yang demikian, maka budaya saling menyalahkan sebagaimana yang selalu masih terus berulang ini bisa kita kurangi dan kita hindari.


Namun seringkali yang terjadi akan menjadi masalah baru jika ada pihak-pihak yang memang ingin mencari keuntungan atas peristiwa banjir yang sering terjadi ini. Misalnya terkadang ada beberapa media yang teramat sangat jelas yang membuat pemberitaan yang tujuanya memang hanya ingin menyalahkan pemerintahan saja, maka pemberitaan yang mereka buat tentunya juga hanya mengarahkan bahwa semua banjir yang terjadi pastilah kesalahan dari pemerintah yang tidak becus. Padahal warga masyarakat tentunya juga sudah melihat bagaimana pemerintah dari jauh-jauh hari sudah mengantisipasi dengan mengeruk sungai-sungai yang penuh oleh sampah warga.


Kita juga melihat jika misalnya di Jakarta, maka waduk-waduk yang tadinya dangkal dan penuh dengan sampah-sampah dari warga juga sudah dikeruk bersih, bahkan menjadi indah karena dibangunya taman-taman kota. Walaupun mungkin masih banyyak kekurangan dari apa yang sudah dilakukan oleh pemerintah, tentunya media juga harus berani menyuarakan fakta bahwa akan menjadi sia-sia apa yang sudah dilakukan pemerintah ketika kebiasaan membuang sampah warga juga tidak pernah berubah.


Kerja pemerintah yang sudah mengeruk sungai dan danau-danau serta membuat resapan akan menjadi sia-sia ketika warga tetap membuang sampah sembarangan. Sungai dan waduk serta selokan akan kembali penuh dengan sampah dan sampah yang akhirnya akan menyumbat aliran air dan akhirnya menimbulkan banjir dan banjir lagi.


Tentunya sudah kewajiban dan keharusan kita untuk terlibat dan menjadi bagian supaya kita bukan menjadi penyebab terjadinya banjir. Berhentilah saling menyalahkan ketika kita sendiri masih menjadi bagian dari orang-orang yang menjadi penyebab dan yang menciptakan terjadinya banjir.


Ilustrasi gambar banjir: detikfoto

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.