Fenomena Demo: Dari Demo Beneran hingga Demo Bayaran

edd3630df049c312ccae04a95d60ccbd_demo

Demo oh demo...

Banyak orang tentunya memiliki kesan sendiri-sendiri ketika mendengar istilah demo. Apakah kesan itu didapat dari pengalaman sendiri, melihat dari televisi, ataupun cerita dari teman-temanya.

Demo atau demonstrasi yang terkadang disebut juga dengan unjuk rasa secara umum diartikan sebagai sebuah gerakan protes yang dilakukan sekumpulan orang di hadapan umum. Unjuk rasa biasanya dilakukan untuk menyatakan pendapat kelompok tersebut atau penentang kebijakan yang dilaksanakan suatu pihak atau dapat pula dilakukan sebagai sebuah upaya penekanan secara politik oleh kepentingan kelompok [wikipedia].

Dari sedikit gambaran terkait pengertian demo sebagaimana penjelasan tersebut diatas mungkin masih bisa dikembangkan menjadi pengertian dan penjelasan yang beragam. Namun secara garis besar demo itu adalah sebuah "perlawanan" atau "penolakan" seseorang atau kelompok yang tidak setuju karena tidak sesuai dengan keinginan pribadi ataupun kelompok.

Bicara demo di Indonesia sendiri sudah memiliki sejarah panjang, sejak jaman penjajahan, pasca kemerdekaan, reformasi dan hingga kini, demo seolah terus silih berganti dari tema demo dan kasus demi kasus.

Dari berbagai jenis demo yang berlangsung di Indonesia, secara garis besar ada beberapa jenis demo. Jenis yang saya maksudkan disini khususnya terkait dengan jumlah mayoritas, seimbang, dan minoritas ukungan dari warga negara.

Maksud saya begini, di Indonesia demo seringkali ada beberapa jenis demo yang memang didukung oleh mayoritas rakyat Indonesia. Ciri-ciri demo yang di dukung oleh mayoritas rakyat Indonesia, biasanya pasti berjalan dengan damai walaupun terkadang juga ada kekerasan. Contoh demo yang seperti ini misalnya demo terkait isu Indonesia harus bebas Koruptor. Jika ada demo terkait isu-isu Indonesia bebas koruptor, tentunya demo yang seperti ini hampir mayoritas rakyat Indonesia mendukung, kecuali para pelaku koruptor itu sendiri yang tentunya menolak aksi demo seperti ini.

Ada lagi demo yang jumlah yang mendukung demo dan yang menolak demo jumlahnya terkesan seimbang. Memang sangat sulit untuk menghitung secara pasti menentukan imbang tidaknya dukungan dan penolakan atas demo yang dilakukan, tapi secara gejala-gejalanya bisa dirasakan. Ciri-ciri demo yang jenis ini biasanya rawan kontroversi, perdebatan, hingga kekisruhan dan aksi demo yang anarkis. Jenis demo yang seperti ini misalnya terkait isu kenaikan harga BBM seperti yang sekarang terjadi.

Demo terkait penolakan harga BBM ini seolah sudah pasti terjadi di setiap isu kenaikan harga BBM mencuat. Sebagaimana saat ini yang pemberitaan di beberapa media seolah mengupas habis-habisan terkait demo penolakan BBM di beberapa daerah. Bahkan aksi ini juga banyak yang diantaranya sampai terjadi anarkis dan pengrusakan hingga mengganggu ketertiban umum.

Demo kenaikan BBM ini juga ternyata tidak hanya terjadi di lapangan tapi juga terjadi juga di jejaring sosial media. Bedanya, jika mereka yang menolak kenaikan harga BBM banyak yang melakukan demo dengan cara turun ke jalan hingga melakukan aksi anarkis dan pengrusakan serta mengganggu ketertiban umum, maka demo yang dilakukan oleh kelompok ataupun individu yang mendukung kebijakan kenaikan BBM lebih banyak hanya melalui tulisan.

Mereka yang mendukung kebijakan kenaikan BBM lebih banyak hanya mengungkapkan persetujuan mereka melalui tulisan di berbagai status media sosial. Hingga hari ini saya juga belum mendengar adanya aksi demo yang mendukung kenaikan harga BBM dengan cara turun ke jalan apalagi sampai melakukan anarkis dan pengrusakan.

Selain aksi-aksi demo tersebut diatas, ada juga aksi demo yang dilakukan oleh kalangan minoritas. Aksi demo yang dilakukan oleh kelompok minoritas secara efeknya hampir sama seperti aksi demo yang dilakukan dan didukung oleh mayoritas rakyat. Efek yang saya maksudkan khusus terkait pada efect yang tidak sampai mengakibatkan kekisruhan, aksi anarkis hingga pengrusakan. Walaupun tetap saja mungkin saja terjadi aksi pengrusakan tapi kemungkinanya kecil. Jenis demo yang seperti ini misalnya terkait demo yang dilakukan oleh seorang ayah yang mendemo dan menuntut supaya pembunuh anaknya diusut tuntas.

Diluar pembahasan terkait jenis demo sebagaimana tersebut diatas, maka yang paling sensitif untuk dibahas yaitu terkait adanya demo beneran dan terkait adanya isu demo bayaran.

Demo beneran yang saya maksud disini tentunya memang demo tersebut dilakukan karena demo beneran yang dilakukan karena dirinya atau kelompok tersebut tidak sepakat dengan kebijakan pemerintah atau kelompom tertentu. Dan biasanya demo yang seperti ini dilakukan dengan tanpa dibayar bahkan mereka biasanya sampai mengorbankan waktu dan uang mereka sendiri dalam melakukan aksi demo.

Sedangkan terkait demo bayaran merupakan demo yang dilakukan oleh kelompok tertentu yang melakukan demo karena dibayar oleh kelompok tertentu. Demo yang seperti ini terkadang sulit dideteksi tapi terkadang justru juga sangat mudah ditemukan.

Mungkin masih ada banyak hal yang menarik untuk dibicarakan ketika kita bicara soal aksi demo. Namun dari banyaknya pembahasan tersebut saya ingin menekankan pentingnya menjaga aturan dan norma yang berlaku.

Saya yakin setiap aksi demo yang memang benar-benar demo beneran [bukan bayaran], mereka pasti memiliki tujuan yang baik karena ingin menyuarakan suara dan pendapat mereka. Namun untuk para pelaku demo juga diharapkan harus tetap menjaga kemanan dan menghargai juga pendapat-pendapat yang berseberangan dengan mereka. Karena stiap pendapat dan keinginan seseorang dan kelompok akan selalu dibatasi oleh pendapat dan keinginan orang lain dan kelompok lain yang juga memiliki hak yang sama dengan mereka.

Jadi bolehlah demo, tapi tetap jaga aturan dan norma hukum yang berlaku, jangan sampai aksi demo yang seharusnya minta perhatian dan dukungan, tapi karena dilakukan dengan cara kasar sampai melakukan pengrusakan dan mengganggu kenyamanan publik, anda bukanya dapat dukungan justru akan mendapat cacian dan makian karena perilaku anarkis yang anda lakukan.

Demo tidak dilarang asal tetap sopan dan tidak mengganggu dan meresahkan banyak orang.

Ilustrasi gambar: detikFoto

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.