Inilah Keluhan Rakyat yang Tidak Menerima Subsidi BBM

Beberapa hari yang lalu tetangga saya yang belum memiliki sepeda motor bermain ke rumah saya. Awalnya kita hanya ngobrol seputar hasil panen dan yang lainya. Namun karena obrolan kami sambil nonton TV, begitu ada pemberitaan soal banyaknya antrian motor di berbagai daerah yang disertai banyaknya keluhan masyarakat, tetangga saya yang hanya seorang buruh tani dan belum memiliki motor tersebut kemudian berkomentar begini,


"Orang kaya itu memang aneh ya, baru ngantri kelangkaan BBM saja sudah bikin ribut negara. Apalagi kalau BBM dinaikan, sudah pasti demo dimana-mana. Padahal beli motor saja bisa, kok beli BBM takut gak mampu dan merasa kemahalan".


Disela-sela dia mengomentari pemberitaan terkait kelangkaan BBM kemudian dia sempet berkomentar sekaligus bertanya ke saya dengan ucapan khas bahasa ngapak seperti ini,


"Padahal sak kere-kerene wong sing ndue mobil karo motor kan tesih kere inyong kan sing ora ndue motor kan mas Ari?"


Kalau di terjemahkan kurang lebih ucapan dia begini, "Padahal semiskin-miskinya mereka yang punya mobil dan motor pasti lebih miskin saya yang tidak punya motor kan mas Ari?".


Tetangga kulo belum selesai berkomentar ketika mendengar pembahasan jika ternyata BBM itu disubsidi negara hingga ratusan trilyun tiap tahunya. Komentar dia begini,


"Masya Allah, duit atusan trilyun sih pirang juta mas ari? (Terjemah: Masya Allah, uang ratusan trilyun itu berapa juta sih mas Ari?"


Mendapat pertanyaan itu daripada saya bingung kemudian saya ambil kertas dan bolpoint lalu saya menuliskan angka 1 trilyun dengan tertulis Rp 1.000.000.000.000 di sebuah sobekan kertas.


524856d46ac5c8652691c78e9d85ec42_img_20140903_101755


Dengan nada masih gak percaya sekalian saya sebutkan sekalian jika subsidi BBM itu kisaranya ada sekitar 250an Trilyun, jadi tinggal ganti angka 1 menjadi angka 250, maka jadinya 250 trilyun, begitulah saya bilang ke tetangga saya itu.


Kemudian tetangga saya melanjutkan komentarnya dan bilanga begini, "Lah gue mau duit akehe semono mukur dinggo tuku BBM tok?" (terjemah: Lah uang itu tadi yang banyaknya segitu hanya untuk beli BBM saja?".


Saya jawab, ya memang begitulah adanya.


Dengan begitu semangat tetanggaku langsung berkomentar begini, "weleh weleh...dadi wong sugih nang Indonesia kok kepenak temen ya, wis duite akeh, esih di wai bantuan nang negara, padahal kaya inyong bae jangankan mikir bisa due motor, asal bantuan beras lancar karo ulih kerjaan dikongkon garap sawah karo derep bae wis alhamdulillah".


Singkatnya tetangga saya tadi berkomentar begini, "weleh weleh.. Jadi orang kaya di Indonesia kok enak banget ya, sudah punya duit banyak, masih dikasih bantuan dari negara. Padahal orang seperti saya, jangankan berfikir bisa punya motor, asal bantuan beras dan dapat kerjaan dipercaya mengelola sawah dan panen saja sudah bersyukur".


Sebenarnya masih banyak obrolan yang dari obrolan ini membuat saya merasa berfikir tidak seharusnya subsidi BBM sebesar itu kurang tepat diberikan kepada mereka yang memiliki motor dan mobil. Karena pada kenyataanya semiskin-miskinya mereka yang sudah punya mobil dan motor, bisa dipastikan masih lebih miskin mereka yang belum punya motor apalagi mobil.


Terkait penggunaan BBM sendiri menurut saya perlu dilakukan sosialisasi dan penyadaran kepada masyarakat luas bahwa BBM adalah barang langka dan mahal sehingga masyarakat haruslah HEMAT.


Setelah adanya obrolan tersebut diatas dengan tetangga saya, saya lebih berhati-hati menggunakan BBM. Jika jaraknya dekat, saya lebih memilih menggunakan sepeda onthel dan hanya menggunakan motor ketika pergi dengan jarak jauh itupun kalau memang benar-benar penting.


Negara Iran saja yang menjadi negara ke 4 dunia sebagai pengekspor minyak saja menurunkan subsidi BBM mereka. Hal tersebut dilakukan karena Iran bersama masyarakatnya sadar betul bahwa BBM adalah barang langka yang dibutuhkan oleh semua negara dan ketersediaanya akan habis pada waktunya.


Sedangkan kita Indonesia sebagai negara yang tidak lagi menjadi anggota pengeksport minyak dan justru sebagai negara pengimport minyak justru begitu "jor-joran" dalam hal pemberian subsidi BBM.


Sebenernya yang harus difokuskan pemerintah kedepan selain mencabut subsidi BBM, mereka harus menciptakan lapangan kerja sebesar-besarnya kepada masyarakat sehingga pendapatan masyarakat terus meningkat.


Jika pendapatan dan penghasilan masyarakat terus meningkat, hal tersebut akan meningkatkan juga daya beli masyarakat sehingga walaupun harga BBM mahal, masyarakat tidak akan merasa terbebani.


Hal lain yang harus dilakukan pemerintah juga dengan menyediakan fasilitas transportasi umum yang memiliki kwalitas nyaman dan murah. Karena ketika fasilitas transportasi seperti bus, kereta api, angkutan umum, dibuat nyaman dan murah, maka masyarakat akan dengan sendirinya berfikir lebih enak naik transportasi umum yang murah tapi nyaman daripada menggunakan kendaraan sendiri karena bensin mahal dan capek.


Tentunya masih banyak lagi tugas pemerintah untuk memanjakan masyarakatnya. Sedangkan masyarakat juga harus ikut membantu pemerintah dengan cara melakukan penghematan Energi seperti BBM, listrik, dan yang lainya. Hal tersebut dikarenakan gaya hidup hemat itu harus kita biasakan sebagai keajiban dan kebutuhan kita juga.


Yuk, mari biasakan hidup hemat Energi!

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.