Petasan, Pemulung dan Anaknya yang Kelaparan

Saya masih teringat terus tentang peristiwa ini....


Sore itu tepatnya Jum'at 4 Juli 2014 sekitar pukul 17.05 w.i.b saya melakukan perjalanan dari Yogyakarta menuju Kebumen Jawa Tengah. Karena suasana puasa saya memang membawa bekal botol air minum untuk membatalkan puasa. Karena melalui kota jalanan macet, saya terjebak kemacetan yang ternyata baru sampai di Pom Bensin Gamping sudah adzan magrib. Akhirnya saya mengisi bensin dan membatalkan puasa serta sholat Magrib.


Karena takut kemaleman, saya tidak langsung cari makan dan mengambil keputusan supaya makanya nanti saja di perjalanan. Karena saya juga sudah membatalkan puasa dengan air mineral yang saya bawa, akhirnya saya melanjutkan perjalanan dengan memutuskan untuk cari makan di perjalanan saja.


Akhirnya saya memutuskan melakukan perjalanan kembali. Namun ternyata baru melakukan perjalanan sekitar 28 menit, perut saya merasakan lapar yang membuat perut saya agak terasa perih. Karena saya takut kena mag, akhirnya saya putuskan untuk mencari makan.


Akhirnya saya putuskan untuk mencari makan di daerah wates yang dahulu pernah makan disana.


Namun belum sampai di lokasi warung makan yang akan saya tuju, tepat di perempatan lampu merah wates, saya sudah tidak tahan menahan perih. Terlebih saat itu posisi lampu menyala merah. Dalam kondisi tersebut saya melihat warung angkringan tepat disamping lampu merah. Tanpa berfikir lama saya langsung turun dan memutuskan makan di angkringan tersebut.


Awalnya saya memesan jahe hangat, dan memakan beberapa gorengan. Seperti biasanya, saya sempetkan juga untuk memotret dan mengupdate status di instagram.


2c4746cc8886d858b87452323f50cfdb_angkringan-wates


Diangkringan inilah semua peristiwa dalam tulisan ini terjadi.


Ketika sudah selesai memotret, beberapa menit kemudian saya melihat ada seorang pemulung yang membawa gerobak. Saya melihat dari jarak yang tidak terlalu jauh sehingga saat itu saya melihat bapak pemulung ini seolah ragu mau makan di angkringan ini atau tidak. Karena saya sempat melihat awalnya sempat berhenti dan kemudian dia lanjut jalan membawa gerobaknya hingga akhirnya dia turun dan duduk di depan saya.


Awalnya saya pikir pemulung ini sendirian, tapi saya sedikit terkejut jika ternyata dari gerobak turun anak kecil. Saya juga sempat melihat jumlah bawaan yang dibawa hanya beberapa kardus dan sedikit plastik botol air mineral. Pemulung tersebut kemudian memesan Teh hangat tapi tidak pakai gula.


Saya agak heran kenapa pemulung tadi hanya memesan hanya satu teh hangat, padahal kan dia bersama anak kecilnya yang masih berusia sekitar 6 tahun, itupun sambil menyeru supaya tidak pakai gula. Saya juga melihat anak kecil itu tidak membeli nasi dan hanya diambilkan satu gorengan oleh bapaknya yang kemudian dimakanya dengan begitu lahapnya.


Dari tempat duduk saya makan, saya melihat anak pemulung duduk membelakangi saya dan ternyata si anak tersebut sambil melihat anak-anak kecil sedang menyalakan petasan kecil. Tidak hanya bermain petasan, anak-anak kecil yang sepertinya anak-anak kampung sekitar juga bermain kembang api.


Saya mengamati terus anak pemulung yang tertegun memandang ke arah anak-anak yang sedang main petasan dan kembang api. Saya mencoba membaca apa yang ada dibenak anak pemulung tersebut mungkin begini, "Senangnya jadi mereka, bermain petasan dengan teman-teman sedangkan saya harus ikutan bapak memulung dan untuk makan saja saya harus begini susah".


Saat saya mengamati itu semua, saya sendiri mau makan rasanya juga sudah hilang rasa lapar saya melihat apa yanga ada di depan mata saya. Padahal saya juga baru makan gorengan dan satu bungkus nasi kucing, padahal biasanya saya perlu makan dua bungkus untuk ukuran nasi kucing khas angkringan yogya yang memang ukuranya sangat sedikit.


Saya melihat bapak tersebut sepertinya mau pulang dan akan membayar satu gelas teh hangat tanpa gula dan 2 gorengan. Ketika mau membayar dia mengeluarkan dompet tipis yang sudah pada sobek dan secara tidak sengaja saya melihat bahwa didalam dompet itu ternyata hanya berisi selembar uang lima ribu rupiah saja.


Melihat itu semua terjawab sudah kegelisahan saya tadi saat melihat kesedihan si anak pemulung yang melihat anak-anak kampung bermain petasan dan kembang api. Kini aku jadi tahu semua kenapa pemulung tadi hanya memesan satu teh hangat tanpa gula dan diminum berdua bergantian dengan anaknya. Ternyata karena uangnya tinggal lima ribu perak saja. Akhirnya dengan segera saya meminta kepada penjual angkringan supaya nanti biar sekalian saya bayarkan dengan yang saya makan. Saya juga meminta supaya dibungkuskan beberapa makanan dan nasi untuk pemulung tadi dan juga anaknya.


Pemulung tadi berkali-kali menolak pemberian saya tapi saya juga tetap memaksa dan menaruh makanan dan nasi yang sudah dibungkus di paku yang tertancap di gerobak pemulung tadi. Saya juga menyelipkan beberapa lembar rupiah yang saya selipkan dalam kresek makanan tadi. Memang tidak seberapa tapi yang jelas semoga bisa membantu mereka.


Selama duduk bareng diangkringan tadi, obrolan yang saya ingat hanya sapaan yang begitu sopan menanyakan saya dari mana dan mau kemana yang saya jawab hanya seperlunya saja. Dan saya juga sempat bertanya, "dapat banyak pak?. pemulung cuman menjawab, "sepi mas, soalnya puasa jadi berangkatnya tadi dari jam 3 sore jadi kedahuluan diambil oleh pemulung yang lain", begitu jawabnya.


Sehabis peristiwa ini tak henti-hentinya saya berucap syukur atas nikmat Tuhan yang selama ini aku nikmati. Seringkali hanya memiliki masalah terkadang saya langsung mengeluh ini dan itu, padahal mereka dengan kondisi yang seperti itu masih tetap bekerja keras dan tetap ramah menyapaku lebih dulu.


Dari kisah ini saya tidak berani memutuskan apakah perlu tidak sebuah petasan selama di bulan ramadhan ataupun nanti saat jelang lebaran. Setiap orang memiliki hak mereka masing-masing atas uang yang mereka miliki. Namun disini saya hanya berpesan bahwa di setiap rupiah yang kita miliki ada hak orang-orang miskin yang mereka tidak pernah berfikir bagaimana anak-anaku bisa bermain petasan melainkan besok apa yang kita makan?


Cerita ini hanya ingin berbagi bahwa di negeri kita memang masih begitu mudah menemukan kemiskinan. Bahkan tanpa harus kita mencari, mereka datang dengan sendirinya tanpa skenario di depan hadapan kita.


Semoga memberikan manfaat untuk yang membacanya....

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.