Tidak Ada Gunanya Kampanye melalui Sosial Media?

Dalam menentukan judul tersebut diatas sebenarnya agak berat karena takutnya saya dinilai "MELARANG" para blogger untuk bicara politik. Namun maksud saya tersebut sebenarnya merupakan pertanyaan dari teman diskusi saya beberapa saat yang lalu.


Teman saya yang merupakan seorang yang berkecimpung dalam dunia usaha tersebut memang sudah mengetahui jika saya juga aktif menulis di blog.


Teman saya tersebut sempat memberikan saran kepada saya supaya jika bisa selama musim kampanye ini diharapkan saya jangan terpancing untuk menulis isu politik.


Menurutnya, menulis terkait politik saat isu kampanye seperti sekarang ini hanya akan merugikan bloger itu sendiri. Selama ini blogger dianggap sebagai orang-orang yang dikenal sangat kritis dan independent selain media.


Saat sekarang ini media yang hampir rata-rata sudah DIMILIKI dan DIKUASAI oleh politikus, seharusnya blogger tetap independent jangan mengikuti MEDIA yang sekarang ini sudah dikuasai oleh para politikus.


Dari nasihat teman saya tersebut sepertinya ada baiknya juga sih. Saya sendiri juga sepertinya ingin mengikuti nasihat dari temanku tersebut.


Walau sebenarnya saya sejak membuat blog yang satu ini memang lebih banyak saya isi tentang opini saya terkait dengan tema sosial dan politik.


Itupun isu sosial politik yang saya tulis juga rata-rata tidak ada yang memihak karena lebih kepada isu-isu yang general (umum).


Dengan pertimbangan dan saran dari masukan teman saya tersebut diatas, saya juga jadi berfikir bahwa ada effect negatif ketika kita menulis isu politik yang itu terkesan mendukung salah satu Calon Presiden dan terkesan menjatuhkan Calon Presiden yang lain.


Efect positifnya mungkin anda sudah pasti akan dipuja-puja oleh teman-teman anda yang memiliki kesamaan dalam memilih Calon Presiden yang sama. Namun sebaliknya, teman-teman anda yang sebelumnya mungkin dekat dengan anda, ketika tahu pilihan calon presiden anda tidak sama dengan mereka, maka secara psikologis akan ada perubahan jarak diantara kalian berdua.


Untuk ukuran mereka yang sudah berfikir realistis dan sudah terbiasa menghargai perbedaan, mungkin hal ini tidaklah bermasalah. Namun secara faktanya kita melihat di jejaring social, sangatlah mudah kita melihat teman kita yang sebelumnya begitu akur saling berkomentar di dinding jejaring social, kini begitu berbeda pilihan soal calon presiden, mereka saling caci dan memaki.


Saya sendiri kadang iseng-iseng mengetes kepada beberapa teman saya yang misalnya mereka memilih Calon Presiden Jokowi, saya mencoba menunjukan kebaikan dan prestasi Prabowo, komentar mereka pasti langsung membalas dengan sporadis dan seolah tidak terima.


Begitu juga sebaliknya, ketika saya mencoba berkomentar pada teman-teman yang terkesan mendukung Calon Presiden Prabowo kemudian saya sebutkan prestasi dan kelebihan Jokowi serta kekurangan Prabowo, maka mereka dengan serta merta juga langsung membalas dengan nada marah.


Atas berbagai pertimbangan tersebut tentunya akan lebih aman jika saya akan lebih memilih untuk menghindari tulisan yang terkesan akan mendukung Calon Presiden tertentu. Alasanya sudah sangat jelas karena effect negatifnya jauh lebih banyak daripada effect positifnya.


Bahkan kalau boleh saya berpendapat, hampir tidak ada gunanya kita menyebarkan tulisan yang mencoba membongkar keburukan calon presiden lainya.


Hal tersebut karena saya membayangkan dan bisa merasakan sendiri senadainya saya punya calon presiden (kemungkinan golput), jika ada orang lain membuat atau menyebarkan tulisan yang menjelek-jelekan calon presiden pilihan saya, apakah kemudian saya jadi berbalik untuk memilih capres yang orang lain pilih? Jawabanya TIDAK!


Dan saya juga sangat yakin itu juga yang akan anda jawab ketika ada teman anda membuat tulisan atau membagikan tulisan yang menjelek-jelekan calon presiden pilihan anda, maka anda juga tidak mungkin untuk beralih memilih calon presiden yang orang lain pilih.


Walaupun terkadang sangat banyak kita melihat di beberapa komentar dia akan bilang begini, "... Saya awalnya memilih Jokowi, gara-gara membaca tulisan anda ini saya jadi tidak suka Jokowi dan lebih memilih Prabowo....".


Padahal ditempat yang lain juga sangat mudah menemukan kalimat yang sama dengan kalimat begini, "... Saya awalnya memilih Prabowo, gara-gara membaca tulisan anda ini saya jadi tidak suka Prabowo dan lebih memilih Jokowi....".


Jika ada yang mengatakan itu, percayalah jika itu hanya basa-basi semua karena pada dasarnya memang intinya mereka memang memilih Calon Presiden pilihanya. Namun biar terkesan di dramatisir, kalimat komentarnya jadi seperti itu.


Karena sekarang ini sangat mudah memahami karakter orang di sosial media, sehingga kalau anda tetap nekat masih terus membagikan tulisan di jejaring sosial dengan harapan orang lain beralih untuk memilih calon presiden yang seperti anda pilih, maka itu hanya akan sia-sia saja.


Ini hanya masukan dan pikiran saya pribadi, jika memang anda meyakini dengan menjelek-jelekan calon Presiden lain anda yakin orang lain akan beralih untuk memilih calon presiden sesuai pilihan anda, silahkan itu adalah hak anda.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.