Mengharukan! Kisah Hakim Adil dan Nenek yang Mencuri karena Kelaparan

ddcf99788c5bc50141c132e63d90ff34_kisah-hakim-adil-dan-nenek-yang-mencuri-singkong-karena-kelaparanKisah ini sebenarnya mulai banyak beredar di jejaring social sejak Oktober 2013. Namun akhir-akhir ini cerita ini beredar kembali, mungkin alasanya karena banyak orang jenuh dengan share tulisan tentang berita politik yang tidak mendidik dan justru memecah belah pertemanan banyak orang sehingga cerita seperti ini jauh lebih bermanfaat.


Membaca tulisan ini jujur saja saya tidak kuat membendung air mata saya untuk mengalir tanpa hentinya. Bahkan seolah terbuai dengan cerita di dalamnya, membuat saya ingin membaca berulang dan berulang kali untuk memastikan bahwa kisah ini benar-benar menyentuh nurani dan relung hati terdalam.


Saya sendiri belum bisa memastikan kebenaran dari cerita ini, namun kebenaran cerita ini menjadi tidak penting setelah saya mendapatkan pesan moral dan teladan dari cerita di dalam tulisan ini.


Kalaupun cerita ini bukanlah cerita fakta dan sebenarnya, saya tidak akan mempermasalahkanya karena cerita ini sudah berhasil masuk ke hati sanubari dan memberikan keteladanan, harapan, atas nama KEADILAN!


Untuk anda yang ingin ikut membaca tulisan ini, berikut ini saya kutipkan tulisan aslinya sebagai berikut:




~ KISAH SEORANG NENEK MENCURI SINGKONG KARENA KELAPARAN , DAN HAKIM MENANGIS SAAT MENJATUHKAN VONIS


silahkan dibaca bagus banget untuk renungan.


Diruang sidang pengadilan, hakim Marzuki duduk tercenung menyimak tuntutan jaksa PU terhadap seorang nenek yang dituduh mencuri singkong, nenek itu berdalih bahwa hidupnya miskin, anak lelakinya sakit, cucunya kelaparan ...


Namun manajer PT X** ( Y ** grup ) tetap pada tuntutannya, agar menjadi contoh bagi warga lainnya.


Hakim Marzuki menghela nafas., dia memutus diluar tuntutan jaksa PU, 'maafkan saya', katanya sambil memandang nenek itu,.


Saya tidak dapat membuat pengecualian hukum, hukum tetap hukum, jadi anda harus dihukum. saya mendenda anda 1 juta rupiah dan jika anda tidak mampu membayar maka anda harus masuk penjara 2,5 tahun, seperti tuntutan jaksa PU'.


Nenek itu tertunduk lesu, hatinya remuk redam, sementara hakim Marzuki mencopot topi , membuka dompetnya kemudian mengambil dan memasukkan uang sejumlah 1jt rupiah ke dalam topi tersebut dan berkata kepada hadirin...


"Saya atas nama pengadilan, juga menjatuhkan denda kepada tiap orang yang hadir diruang sidang ini sebesar 50 ribu rupiah, sebab menetap dikota ini tapi membiarkan seseorg kelaparan sampai harus mencuri untuk memberi makan cucunya..."


" Sdr panitera, tolong kumpulkan dendanya dalam topi saya ini lalu berikan semua hasilnya kepada terdakwa ."


Sampai palu diketuk dan hakim Marzuki meninggaikan ruang sidang, nenek itupun pergi dengan mengantongi uang 3,5 juta rupiah.


Termasuk uang 50 ribu yang dibayarkan oleh manajer PT X *** yang tersipu malu karena telah menuntutnya.


Sungguh sayang kisahnya luput dari pers.


Kisah ini sungguh menarik sekiranya ada teman yang bisa mendapatkan dokumentasi kisah ini bisa di share di media untuk jadi contoh kepada aparat penegak hukum lain agar bekerja menggunakan hati nurani dan mencontoh hakim Marzuki yang berhati mulia.



Setelah membaca kisah diatas, ada dua alasan kenapa saya sendiri sampai mengeluarkan air mata.


Pertama, Saya bisa merasakan bagaimana menderitanya nasib nenek tersebut yang hanya untuk bertahan hidup karena kelaparan sehingga harus berani mencuri :-( .


Bagaimana mungkin, di era yang katanya sudah maju dan banyak orang KAYA RAYA di setiap kota/kabupaten, bahkan di setiap desa bisa dipastikan pasti ada orang kaya, tapi ternyata masih ada orang miskin yang hanya untuk makan saja mereka harus mencuri :-( .


Sedangkan pejabat negara kita dan politikus di negeri ini, mereka yang sudah digaji oleh rakyat melalui pajak dengan gaji tinggi dan fasilitas serba mewahnya, tetap saja mereka masih KORUPSI! Terkutuklah mereka!.


Alasan kedua kenapa cerita diatas membuat saya sampai terharu dan mengeluarkan air mata karena mendengar kisah dari HAKIM yang ADIL bernama Marzuki.


Silahkan anda simak pada pernyataan Hakim Marzuki pada kalimat berikut,




"Saya tidak dapat membuat pengecualian hukum, hukum tetap hukum, jadi anda harus dihukum. saya mendenda anda 1 juta rupiah dan jika anda tidak mampu membayar maka anda harus masuk penjara 2,5 tahun, seperti tuntutan jaksa PU'.


Nenek itu tertunduk lesu, hatinya remuk redam, sementara hakim Marzuki mencopot topi , membuka dompetnya kemudian mengambil dan memasukkan uang sejumlah 1jt rupiah ke dalam topi tersebut dan berkata kepada hadirin...


"Saya atas nama pengadilan, juga menjatuhkan denda kepada tiap orang yang hadir diruang sidang ini sebesar 50 ribu rupiah, sebab menetap dikota ini tapi membiarkan seseorg kelaparan sampai harus mencuri untuk memberi makan cucunya..."


" Sdr panitera, tolong kumpulkan dendanya dalam topi saya ini lalu berikan semua hasilnya kepada terdakwa ."



Dari pernyataan sikap dari Hakim Marzuki tergambar betapa dirinya memiliki sikap yang TEGAS, ADIL, dan BIJAKSANA dalam memutus perkara.


TEGAS dan ADIL karena dirinya sebagai hakim memang harus tegas dan ADIL untuk mengatakan, bahwa dengan alasan apapun MENCURI tetaplah salah dan tidak bisa dibenarkan. Pelaku pencurian juga harus DIADILI dan DIHUKUM Seadil-adilnya termasuk si nenek tadi.


BIJAKSANA, Hakim marzuki memberikan contoh langsung sekaligus teladan bahwa dirinya telah berbuat BIJAKSANA ketika dirinya tetap menjatuhkan hukuman dan denda kepada si nenek, Tapi kemudian dirinya sebagai MANUSIA yang merasa MAMPU akhirnya membayarkan DENDA Rp 1 juta untuk sang nenek dengan uang pribadinya.


Bahkan yang luar biasa lagi dari hakim Marzuki adalah keberanian dan ketegasanya yang berani MEMBERIKAN HUKUMAN juga kepada semua yang hadir dalam sidang sebesar Rp 50 ribu, dengan ALASAN karena masyarakat yang membiarkan seorang nenek yang ada di kotanya ada yang KELAPARAN hingga akhirnya harus mencuri oleh Hakim Marzuki dianggap jika masyarakat juga ikut bersalah.


Dari kisah ini saya juga menjadi optimis jika sebenarnya di Indonesia ini masih ada hakim yang ADIL, TEGAS, BERANI, JUJUR dan BIJAKSANA. Namun terkadang kisah-kisah hakim yang seperti Hakim Marzuki ini di Indonesia jumlahnya masih sedikit.


Jumlah yang sedikit ini ternyata juga dikarenakan minimnya media yang ikut membantu mempublikasikanya.


Salah satu alasan kenapa saya menuliskan ulang tentang kisah Mengharukan dari Kisah Hakim yang Adil dan Nenek yang Mencuri karena Kelaparan ini di blog saya pribadi karena ingin ikut menyebarkan bahwa di negara kita masih ada ORANG MISKIN dan KELAPARAN.


Disisi yang lain, Indonesia masih memiliki Hakim yang adil, jujur, tegas dan bijaksana seperti Hakim Marzuki sebagaimana tersebut diatas.


Saya berharap setelah ini dari pihak detik.com untuk mencoba mencari tahu dan melakukan investigasi kebenaran dari cerita ini dan kemudian bisa menemukan Nenek dan Hakim Marzuki sebagaimana dalam cerita tersebut diatas yang sekarang ini banyak menyebar di jejaring social.


Kalaupun pada kenyataanya cerita itu tidaklah benar, setidaknya para pembaca bisa mendapatkan pelajaran dan hikmah dari cerita ini.


Semoga setelah membaca cerita ini kita jadi lebih peduli dengan sekitar kita, pastikan bahwa tetangga dan orang-orang di sekitar kita tidak ada seorangpun yang KELAPARAN.


Buat para hakim, kalaupun cerita diatas tidak benar, jadilah kalian berlomba-lomba untuk bisa seperti Hakim Marzuki sebagaimana cerita diatas. Karena sesungguhnya, yang dibutuhkan oleh rakyat Indonesia sekarang ini adalah Hakim sebagaimana yang ada pada sosok Hakim Marzuki.


Jika anda mendapatkan hikmah dan inspirasi serta teladan setelah membaca tulisan ini, silahkan anda juga saya perkenankan untuk membagikan tulisan ini. Bahkan jika anda melakukan copas tulisan ini tanpa izin saya sekalipun, saya memperbolehkanya.


gambar: facebook

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.