Mendadak Banyak Orang Biasa Merasa Lebih HEBAT dari Prabowo dan Jokowi

4a8b311db230e33daa56c0644c6271b3_jokowi-vs-prabowoEntahlah, apakah saya harus mengatakan kebanggaan saya karena secara tiba-tiba saya memiliki banyak teman yang merasa lebih hebat dari Prabowo dan Jokowi?.


Ataukah justru saya harus mengatakan "miris" ketika harus memiliki teman-teman yang secara tiba-tiba di musim kampanye ini mereka berubah seolah-olah mereka lebih hebat dari Prabowo dan Jokowi?


Entahlah, namun yang pasti saya tidak menyukai kondisi yang seperti ini.


Coba kita lihat selama musim kampanye, teman kita yang sehari-hari biasanya bersifat "Aley" sekalipun, diantara mereka tiba-tiba sok tahu tentang politik, ekonomi, bisnis, TI, bahkan setelah debat Capres tadi malam yang membahas soal Politik Internasional dan Ketahanan Nasional, teman-teman saya ternyata secara tiba-tiba menjadi ahli di bidang hubungan Internasional dan sok faham banget soal Militer.


Namun yang menarik, keahlian mereka yang "ujug-ujug (mendadak)" ini ternyata digunakan seolah-olah untuk menunjukan jika mereka jauh lebih cerdas dari Prabowo dan Jokowi.


Maksud saya begini, kalau mereka yang mendukung Prabowo, mereka akan "MEMAMERKAN" kecerdasan mereka yang didapat secara "ujug-ujug" tadi untuk memberitahukan dan menganggap jika dirinya lebih cerdas daripada Jokowi. Akibatnya, dirinya akan menganggap jika Jokowi itu kagak ngerti apa-apa soal politik, Ekonomi, Kebijakan, Pendididak, Hubungan Internasional ataupun tentang pertahanan Nasional dan bidang yang lainya.


Begitu juga sebaliknya, untuk mereka yang mendukung Jokowi, mereka akan "MEMAMERKAN" kecerdasan mereka yang didapat secara "ujug-ujug" tadi untuk memberitahukan dan menganggap jika dirinya lebih cerdas daripada Prabowo. Akibatnya, dirinya akan menganggap jika Prabowo itu kagak ngerti apa-apa soal politik, Ekonomi, Kebijakan, Pendididak, Hubungan Internasional ataupun tentang pertahanan Nasional dan bidang yang lainya.


Kondisi di negeri ini tentunya akan terus berlangsung hingga Presiden RI terpilih sudah diumumkan secara resmi oleh KPU pada saatnya nanti. Setelah Presiden sudah diumumkan, mungkin mereka yang seperti itu tadi akan kembali kepada kepribadian diri mereka pribadi masing-masing sebagaimana biasanya.


Sebenarnya apa yang terjadi dengan pemahaman orang tentang demokrasi serta ajang pemilu yang digelar secara rutin tiap lima tahun sekali ini dikarenakan bahwa tidak berjalan dan tidak diamalkanya Pendidikan Akhlaq dan Moral dalam berpolitik di Indonesia.


Kita tidak boleh hanya menyalahkan masyarakat biasa saja karena lihatlah bahwa dikalangan elite politikus sendiri selama ini memang lebih sering tidak menunjukan akhlaq dan moral politik yang baik kepada kita.


Politik yang kita lihat "seolah-olah" baik dan bermoral hanya ketika dalam tayangan debat capres saja dimana mereka memang "DIPAKSA" oleh panitia Pemilu untuk bersifat sopan dan santun dalam berdebat sehingga terlihat santun.


Tapi coba sekali-kali lihat dan ikuti saat para elit politikus ini berkampanye di lapangan umum, kita akan melihat betapa mudahnya mereka akan saling menghina dan menjelek-jelekan antar Capres.


Solusi atas kondisi yang seperti ini tentunya tidak lain kembali kepada diri anda sendiri. Soalnya kalau misalnya saya bilang jika diatas tadi saya sempat mengatakan diperlukan adanya Pendidikan Akhlaq dan Moral dalam berpolitik, sebenarnya hampir semua partai politik pastinya di AD/ART partai mereka sudah menekankan itu.


Bahkan untuk partai politik yang sudah berlabel Islam sekalipun yang didalamnya seharusnya memberikan teladan cara berpolitik yang santun dan berakhlaq, tetap saja kita sulit menemukan itu di lapangan.


Coba saja anda lihat di berbagai group facebook yang berlabel group agama, fanpage, blog, atau web yang berbau agama, tiba-tiba saja di musim pemilu seperti sekarang ini mereka justru seolah "KALAP" dan sibuk menyebarkan FITNAH yang belum tentu terbukti kebenaranya.


Padahal sebagai muslim saya sangat tahu dan sadar bahwa Menfitnah dan ikut menyebarkan FITNAH dengan cara apapun, hukuman dari Tuhan sudah menanti baik di dunia maupun di akherat nanti.


Namun tetap saja yang demikian itu tetap saja tidak bisa memberikan jaminan jika mereka akan berubah untuk sadar dan berubah untuk lebih santun dan bermoral dalam berpolitik.


Kadang anda mungkin berfikir jika orang-orang yang seperti itu bukan berarti merasa lebih hebat dari Prabowo dan Jokowi, melainkan jika yang mendukung Prabowo, mereka berfikir jika Prabowo lebih baik dari Jokowi.


Demikian juga sebaliknya, untuk mereka pendukung Jokowi, maka Jokowi dianggap lebih baik daripada Prabowo.


Oke, jika itu yang terjadi, maka sudah seharusnya masing-masing pendukung tidak perlu mencaci maki Capres yang tidak mereka pilih dan cukuplah anda memberikan alasan kenapa anda memilih Capres pilihan anda dengan menyebutkan kelebihan Capres anda tanpa harus menghina keburukan Capres lain.


Untuk bagaimana caranya, pada tulisan sebelumnya saya sudah memberikan caranya secara rinci bagaimana cara berpolitik dan berkampanye dengan cara santun melalui tulisan disini.


Tulisan ini otomatis saya tujukan untuk mereka-mereka yang memang merasa jika seolah-olah mendadak anda lebih hebat dari Prabowo ataupun Jokowi dengan cara mengumbar semua keburukan-keburukan mereka sampai anda lupa bahwa anda belum tentu jauh lebih baik daripada Prabowo maupun Jokowi.


Tulisan ini hanyalah pengalaman saya pribadi ketika memperhatikan beberapa fakta dan data di timeline Facebook, twitter, blog dan beberapa web teman-teman saya yang sebelumnya mereka hanyalah orang-orang biasa dan ngomongin itu-itu saja tapi secara mendadak di musim pemilu seperti sekarang ini seolah-olah mereka begitu mudah merasa lebih hebat dari Prabowo dan Jokowi dengan cara membongkar kekurangan dan keburukan Prabowo dan Jokowi.


Namun tidak semua teman saya seperti itu karena masih ada juga yang mereka mendukung calon Presiden mereka dengan cara kreatif menunjukan kebaikan dari Capres yang mereka pilih hingga mensosialisasikan visi-misi dan bukti keberhasilan dari masing-masing Capres sehingga itu lebih terlihat santun dan bisa mengajak orang supaya tidak golput.


Ilustrasi gambar: news.detik.com

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.