8 Petuah Luhur Falsafah Jawa yang Terlupakan

314e57525a8dbc0fe8098b60a1dbf381_falsafah-jawa


Sebenarnya kebaikan sudah sejak dahulu diajarkan, namun seolah berjalan beriringan, demikian juga kejahatan dan keburukan yang sudah ada sejak dahulu hingga sekarang.


Dalam hal kepemimpinan, selain dari ajaran agama, ternyata orang-orang Jawa terdahulu juga sudah mengenal Istilah dan Falsafah hidup yang seharusnya dijadikan pedoman untuk setiap orang terlebih untuk para pemimpin.


Agar kita juga bisa ikut belajar dari orang-orang jawa terdahulu melalui falsafah hidup mereka, berikut ini merupakan 7 Falsafah Hidup Orang Jawa yang melegenda tapi sudah banyak ditinggalkan:



1. Sura Dira Jaya Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti
Falsafah jawa ini memiliki arti bahwa segala sifat keras hati, picik, angkara murka dan segala sifat buruk lainya, hanya bisa dikalahkan dengan sikap bijak, lembut hati dan sabar. Sikap bijak dan lembut hati dan juga sabar bukan berarti tidak tegas.

2. Ngluruk Tanpa Bala, Menang Tanpa Ngasorake, Sekti Tanpa Aji-Aji, Sugih Tanpa Bandha.


Untuk Falsafah Jawa yang satu ini bisa juga diartikan bahwa Berjuang tanpa perlu membawa massa. Menang tanpa merendahkan atau mempermalukan. Berwibawa tanpa mengandalkan kekuasaan, kekuatan, kekayaan atau keturunan. Falsafah ini tentunya tidak diartikan ketika saat kondisi berperang melawan penjajah atau saat kondisi perang.


3. Urip Iku Urup


Urup itu seperti obor atau cahaya sehingga setiap orang itu selama Hidup itu harus Menyala, Artinya bahwa Hidup itu hendaknya memberi manfaat bagi orang lain disekitar kita, semakin besar manfaat yang bisa kita berikan tentu akan lebih baik.


4. Ojo Ketungkul Marang Kalungguhan, Kadonyan lan Kemareman



Falsafah Jawa yang ini berarti supaya manusia itu janganlah terobsesi atau terkungkung oleh keinginan untuk memperoleh kedudukan, kebendaan dan kepuasan duniawi.


6. Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta dur Hangkara


Banyak manusia yang dalam hidupnya selalu serakah dan tamak akan isi dunia ini. Falsafah ini mengajarkan supaya manusia hidup di dunia harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak.


7. Datan Serik Lamun Ketaman, Datan Susah Lamun Kelangan


Falsafah jawa yang satu ini sangat cocok untuk mereka yang terkena musibah atau cobaan supaya jangan mudah sakit hati manakala musibah menimpa diri. Jangan sedih manakala kehilangan sesuatu.


8. Ojo Adigang, Adigung, Adiguna


Falsafah Jawa yang ini sangat sesuai untuk mereka yang sudah menjadi pemimpin atau memegang suatu jabatan supaya jangan menjadi orang yang sok kuasa, sok besar, sok sakti/kuat.


Mungkin masih banyak falsafah Jawa yang bisa kita dapatkan dalam buku-buku berbahasa Jawa yang sulit ditemukan karena koleksi buku berbahsa Jawa saat ini memang susah ditemukan. Padahal jika kita mau belajar atas berbagai falsafah jawa tersebut memiliki banyak pelajaran yang bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari kita dalam bermasyarakat dan bernegara.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.