Parpol yang Capresnya Kalah, Siap Jadi Oposisi atau Ngemis Koalisi?

Jika sekarang ini bolehlah semua partai politik saling percaya diri bahwa calon presiden yang mereka dukung akan menang. Itu kenapa sekarang ini semua partai saling mencari dukungan dan saling melakukan koalisi.


Saat ini memang masih belum jelas siapa saja yang akan lolos dan percaya diri untuk mencalonkan diri menjadi calon presiden dan wakil presiden.


Saat ini yang paling banyak dibicarakan baru sebatas calon Presiden dari kubu Prabowo dan Jokowi. Ical belum banyak disebut akan maju menjadi capres karena diinternal Golkar sendiri ada yang menyatakan jika Ical dipastikan gagal untuk nyapres.


Disini saya tidak ingin berbicara terkait siapa saja nantinya yang akan benar-benar maju mencalonkan diri jadi calon Presiden RI di Pemilu nanti.


Disini saya justru tertarik dengan partai-partai yang saat ini sedang saling ribut untuk memutuskan harus kemana mereka berkoalisi.


Pertimbangan yang mereka perhitungkan yang terpenting saat ini mungkin bagaimana nantinya ketika mereka mendukung Capres tertentu, maka bisa dipastikan harapanya capres yang mereka dukung akan MENANG.


Namun bisa dipastikan jika nanti ada yang MENANG, itu berarti pasti ada juga yang KALAH.


Untuk partai yang dalam membangun koalisi berhasil MENANG, mungkin tidak jadi soal dan masalah karena memang sejak awal mereka sudah berkoalisi. Namun bagaimana dengan KUBU yang KALAH?


Jika di negara demokrasi seperti Amerika dan Eropa, biasanya untuk partai politik yang kalah saat mendukung capres, secara otomatis mereka akan menjadi partai OPOSISI dari partai yang memenangkan Pilpres.


Tapi ini demokrasi Indonesia Bung!


Walaupun capres yang mereka dukung kalah, SANGAT MUNGKIN partai politik yang capresnya kalah dengan TIDAK PUNYA RASA MALU mereka akan berbalik berkoalisi dengan Parpol Capres yang MENANG.


Jika ini sampai benar-benar terjadi, maka menurut saya ini merupakan demokrasi yang sangat memalukan dan menjijikan serta tidak mendidik untuk demokrasi di negara kita.


Bayangin saja, tentunya sangat lucu sekali bukan? Saat kampanye misalnya partai tersebut pastinya sudah menjadi kebiasaan saat kampanye akan saling menjelek-jeleken calon presiden lainya. Namun begitu dirinya kalah kemudian mereka mengemis untuk bersatu menjadi koalisi.


Namun sekalilagi ini Indonesia, jadi perilaku politikus di Indonesia memang dari dahulu begitulah adanya. Kita-kita sih cukup melihat dan menunggu perilaku mereka saja nanti!

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.