GOLPUT Tidak Boleh Menuntut?, Emang yang Tidak Golput Bisa Menuntut?

191bac2e7f02ef384c72f81b4c61b3c2_caleg-pemilu-2014


Kadang saya jadi tergelitik ingin menulis ketika banyak membaca dan ramai di social media yang mengatakan, "Jika kita Golput maka kita tidak berhak menuntut kepada para wakil rakyat atau kepada Presiden terpilih saat Pemilu".


Pendapat ini sepertinya perlu dijelaskan dan harus disertai bukti dan data apakah benar jika seorang warga negara yang tidak memilih (GOLPUT) kemudian dianggap tidak berhak menuntut?


Dasarnya apa dan aturan darimana itu?


Kalaupun misalnya mereka yang Golput tidak memilih saat pemilu menurut saya tetap saja selama yang Golput itu masih menjadi Warga Negara Indonesia maka mereka masih memiliki Hak-haknya sebagai warga negaranya.


Silahkan anda yang mengatakan bahwa mereka yang Golput tidak boleh menuntut untuk kembali membaca Undang-Undang Dasar Tahun 1945. Dari semua pasal demi pasal dalam UUD 1945 tersebut disana banyak pasal yang mengatur terkait Hak-hak warga negara Indonesia.


Dan semua hak-hak warga Negara Indonesia yang tercantum dalam pasal-pasal tersebut sama sekali tidak ada satupun pasal yang mensyaratkan supaya mendapatkan hak-hak tersebut tidak boleh Golput saat pemilu berlangsung.


Melalui tulisan ini saya juga ingin sekaligus menegaskan sebuah pertanyaan, Apakah ketika kita memilih, Kita Bisa menuntut wakil rakyat yang kita pilih?


Kalaupun misalnya kita bisa menuntut mereka, menuntut seperti apa yang bisa kita lakukan?


Apakah misalnya ketika pemilu, ada caleg menjanjikan kontrak politik bermaterai yang berjanji akan memperbaiki jalan yang rusak di kampung anda, kemudian setelah terpilih anda bisa menuntut caleg tersebut untuk bisa merealisasikan janjinya?


Kalaupun misalnya demikian, dengan modal kontrak politik bermaterai anda, kemudian anda menuntut ke pengadilan, tentunya di pengadilan pihak caleg tersebut akan bertanya, mana buktinya jika anda memilih caleg tersebut?


Apakah anda bisa menunjukan bukti jika anda dan warga lainya sudah memilih caleg tersebut?


Bukti yang seperti apa yang bisa anda buktikan jika anda sudah memilih caleg tersebut jika ternyata di Pemilu aturanya sudah tegas dibuat bahwa tidak boleh MEMOTRET hasil pilihan kita?


Kalaupun anda bisa mengambil foto tangan anda saat mencoblos, apakah itu bisa jadi alat bukti di pengadilan?


Pastinya si caleg akan bertanya kepada anda, Darimana caleg tersebut bisa tau jika itu tangan anda? kan wajah anda tidak terlihat sehingga banyak sekali hal yang sangat mudah dibantah si caleg ketika di pengadilan.


Kecuali jika anda membawa buktinya dalam bentuk Video yang dibuat dengan skenario yaitu mulai anda datang ke TPS sudah harus direkam oleh teman anda yang kemudian saat anda akan mencoblos juga direkam dalam video lengkap dengan menunjukan wajah anda dalam video tersebut.


Dengan cara itu mungkin anda bisa memiliki bukti yang kuat bahwa anda benar-benar sudah mencoblos caleg tersebut.


Tapi pertanyaanya anda berani melakukan itu? bukankah jika anda akan melakukan itu otomatis Panitia Pemilu ditempat anda pasti akan melarang anda melakukanya karena aturan memang melarang untuk itu.


Dari penjelasan tulisan saya tersebut diatas sudah sangat jelas bahwa sebenarnya mau memilih ataupun tidak memilih (Golput) saat pemilu, sebenarnya sebagai warga biasa akan tetap sama-sama kesulitan ketika menuntut dan menagih janji para wakil rakyat yang terpilih.


Namun yang harus kita fahami dan saya tekankan bahwa mau memilih ataupun Golput saat Pemilu, Hak-hak setiap warga negara tetap sama. Termasuk misalnya ketika seorang yang Golput suatu saat melihat seorang Caleg yang tidak dipilih melakukan Korupsi, maka orang yang Golput tersebut tetap berhak melaporkan Caleg tersebut ke Polisi, Kejaksaan, atau KPK tanpa harus ditanya apakah dahulu orang tersebut Golput atau tidak.


Namun demikian, melalui tulisan ini tetap saya kembalikan kepada individu masing-masing, apakah anda golput atau tidak, itu adalah hak anda masing-masing.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.