Hilangnya Rasa Syukur dan Ucapan Terima Kasih Korban Banjir di Jakarta

ce49b9c81ae1d3188ba267ec80f1743a_pengungsi-tolak-bantuan-mie-instant


Membaca berbagai pemberitaan terkait kisah para relawan banjir di lokasi pengungsian yang menolak pemberian bantuan dari relawan berupa mie instant membuat saya ikut prihatin.


Saya memang tetap bisa merasakan bagaimana menderitanya menjadi korban banjir karena saudara saya yang sebagian besar di jakarta juga ikut merasakan bagaimana tidak enaknya menjadi korban bencana banjir.


Saya sendiri juga pernah menjadi relawan di salah satu bencana nasional beberapa waktu yang lalu sehingga saya juga bisa merasakan bagaimana menjadi relawan bencana.


Saya bisa membayangkan dan merasakan bagaimana rasanya para relawan yang sudah capek-capek dan tulus memberikan bantuan untuk korban banjir, tapi hanya alasan mereka tidak suka kemudian menolak bantuan tersebut.


Supaya anda bisa membaca pengakuan dan kisah langsung dari para relawan tersebut, berikut ini saya kutipkan kisahnya yang saya kutip langsung dari kompas;




"Saya dan tetangga tahun lalu sengaja mengumpulkan uang untuk membeli bahan-bahan makanan bagi korban banjir di sekitar tempat tinggal kami. Namun, mereka menolak dan meminta makanan jadi saja biar praktis," kata Sartono, warga Cipinang, Jakarta Timur, beberapa waktu lalu.


Warga di lingkungan tempat tinggal Sartono pun kemudian membuat dapur umum dadakan dan memasak semua bahan kemudian diwadahi dalam kotak-kotak yang bersih dan rapi. "Namun, kami terkejut. Ketika kami datang bawa nasi kotak, korban banjir tanya lauknya apa. Mereka terlihat tidak berkenan dengan lauk-pauk dan nasi dari kami. Sumbangan kami tidak disentuh," tuturnya.


Sartono dan para tetangganya hanya bisa terdiam walau marah luar biasa. Meski sederhana, Sartono menjamin nasi serta lauk dari mereka terjamin rasa dan kualitas gizinya.


Ratih, warga Sentul, Bogor, yang kebetulan berada di sekitar Cawang, Jakarta Timur, akhir pekan lalu terbengong-bengong menyaksikan beberapa korban banjir membuang nasi dan lauk-pauk yang diambilnya dari dapur umum di posko dinas sosial di kawasan itu.


"Dia ambil terus dimakan sedikit, lalu dibuang juga di dekat posko itu semuanya. Gila, sudah tidak dimakan, buang sembarangan. Makanan yang dibuang menumpuk, lho. Berarti banyak yang perilakunya seperti itu. Nanti yang membersihkan relawan di situ juga. Parah banget," ungkapnya.



Membaca kisah tersebut, saya jadi ingin bertanya, sudah hilangkah rasa terima kasih dan rasa Syukur dari para korban bencana banjir?


Sebagai korban banjir memang sudah selayaknya untuk mendapatkan bantuan. Tapi tidak sepantasnya sampai begitu tega "menghina" pemberian orang-orang yang memang ingin membantu korban banjir.


Melalui tulisan ini saya hanya berharap para korban Banjir untuk tetap bersabar dan bersyukur dengan semua bentuk bantuan dari para relawan. Kalaupun anda tidak suka dengan bantuan dari para relawan, mohon kiranya untuk jangan sampai itu diketahui oleh para relawan yang sudah susah payah memberikan bantuan untuk anda.


Perbanyaklah rasa syukur dan biasakanlah untuk selalu mengucap rasa terima kasih kepada setiap yang memberikan bantuan kepada anda, karena sesungguhnya mereka para relawan sudah bersusah payah untuk bisa memberikan bantuan kepada anda.


Untuk para relawan saya juga berharap dengan peristiwa ini jangan menjadikan kita berhenti untuk berbuat baik. Tetap bantu mereka para korban banjir walaupun mereka menolak dan menghina pemberian kita.


Semoga peristiwa yang seperti ini tidak berulang.


Ilustrasi Gambar | Kompas

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.