Hari Pers Nasional 2014: Ketika Pers Dimiliki dan Dikuasai Politisi

Hari Pers Nasional diselenggarakan setiap tahun pada tanggal 9 Februari. Perayaan Hari Pers Nasional ini dilaksanakan bertepatan dengan hari ulang tahun Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).


Peringatan Hari Pers Nasional juga sudah ditetapkan melalui Keputusan Presiden RI Nomor 5 Tahun 1985 yang ditandatangani oleh Presiden Soeharto pada 23 Januari 1985.


Dalam Pelaksanaan dan Perayaan Hari Pers Nasional, Dewan Pers kemudian menetapkan Hari Pers Nasional dilaksanakan setiap tahun secara bergantian di Ibu Kota provinsi di seluruh Indonesia.


Untuk terkait dengan penyelenggaraan Hari Pers Nasional dilaksanakan secara bersama antara Komponen Pers, Masyarakat, dan Pemerintah, khususnya Pemerintah Daerah yang menjadi tempat penyelenggaraan.Kebijakan tersebut sudah seuai dan diputuskan dalam sidang Dewan Pers ke-26 di Ambon pada 11-13 Oktober 1985.


Jika kita melihat perkembangan Pers dari waktu ke waktu, menunjukan bahwa Pers memiliki peran yang sangat penting dalam mengontrol sebuah pemerintahan di setiap negara.


Terbongkarnya kasus korupsi di setiap negara termasuk Indonesia tidak lepas dari adanya peran Pers.


Dengan adanya Pers, seluruh masyarakat bisa tahu tentang kasus korupsi yang terbongkar di Indonesia. Mulai dari kasus Korupsi di DPR, Kejaksaan, Keolisian, Kehakiman, BUMN, bahkan di tingkat MA sekalipun dibongkar dan dipublikasikan oleh pers ke seluruh masyarakat Indonesia.


Begitu penting dan strategis peran dan fungsi Pers dalam membangun opini publik, maka jangan heran ketika media menjadikan sebuah pemberitaan menjadi headline di setiap media, maka masyarakat juga akan terpengaruh dan ikut menjadikan pemberitaan media tersebut menjadi obrolan yang populer di masyarakat.


Menyadari penting dan strategisnya fungsi pers tersebut, maka berjalanya waktu, para Politisi di banyak negara termasuk di Indonesia berlomba-lomba mendirikan media dalam bentuk Televisi, Media Cetak, Media online, dan sejenisnya.


Para politisi yang mendirikan perusahaan dalam bentuk media tersebut tentunya ketika ditanya sudah pastilah mereka tetap akan menjaga independensi sebagai Pers yang netral dan Obyektif dalam berbagai pemberitaan dan fungsi pers lainya.


Namun berjalanya waktu tentunya masyarakat luas bisa menilai bahwa hampir semua media-media yang dikuasai oleh politisi, maka bisa dipastikan dalam membuat pemberitaan terkesan selalu ingin memojokan partai-partai dan lawan politiknya.


Sebaliknya, Media-media yang dikuasai oleh para Politisi tersebut tentunya akan mengurangi pemberitaan negatif yang bisa mengurangi image negatif dari partai atau nama baik dari pemilik media tersebut.


Melihat kondisi tersebut tentunya sebagai masyarakat biasa saya dan juga masyarakat lainya di Indonesia merasa khawatir.


Kekhawatiran saya tersebut bukan tanpa alasan karena masyarakat tentunya selama ini dan mungkin seterusnya akan tetap menjadikan media sebagai bacaan dan tontonan untuk mendapatkan informasi yang selalu terupdate disetiap detiknya.


Kekhawatiran kita ketika informasi yang media-media sebarkan tersebut menjadi samar, dan yang lebih membahayakan lagi ketika informasi yang disebarkan tersebut bukan sebuah kebenaran.


1d41c3202e3a64ace0600f062b44534f_hari-pers-nasional-2014


Walaupun kadang diberbagai obrolan kadang sebagian orang mengatakan misalnya, "Jangan mudah tertipu dengan pemberitaan media, Jadilah warga yang cerdas yang bisa menyaring informasi yang baik dan benar".


Ungkapan tersebut tentunya sangat Normatif banget dan tidak perlu disampaikan keinginan setiap orang juga seperti itu. Tapi pertanyaanya, darimana dan bagaimana seorang warga biasa seperti saya bisa membuktikan dan menguji bahwa informasi yang beredar di media itu benar atau salah?


Saya contohkan misalkan yang hingga detik ini masih ramai dibicarakan ketika kasus Ibas dan Anas. Beberpaa waktu lalu menurut kubu Anas Urbaningrum dan pendukungnya mengatakan jika Ibas layak diperiksa KPK.


Tapi dari kubu Ibas dan pendukungnya menyatakan jika Ibas tidak perlu diperiksa karena semua tergantung hasil penyidikan KPK.


Membaca dua pemberitaan yang berbeda tersebut, pertanyaan saya adalah, Bagaimana saya sebagai warga biasa bisa mengetahui dan membuktikan dari kedua informasi yang berbeda tersebut?


Tentunya dalam kasus seperti ini dan masih banyak lagi kasus yang serupa yang tetap saja sebagai orang biasa akan tetap menunggu informasi dari Pers. Hal tersebut karena Pers memang memiliki hak dan wwenang untuk bisa mengorek benar tidaknya sebuah informasi sampai tuntas.


Karena begitu masih penting dan strategisnya peran dan fungsi pers tersebut, sangat membahayakan sekali ketika pers dikuasai oleh para politisi.


Secara Undang-undang memang tidak ada larangan bahwa seorang politisi memiliki perusahaan di bidang pers.


Tapi kalau menurut pendapat saya, akan lebih indah dan baik ketika Pers benar-benar harus dimiliki oleh orang-orang yang netral dan independent dan bukan dari kalangan politisi.


Saya tidak bisa membayangkan seandainya kedepan para politisi dan koruptor bersama jajaran calon koruptor di Indonesia bersatu padu membangun perusahaan-perusahaan pers baik dalam bentuk media cetak dan elektronik, kemudian membangun opini publik yang menguntungkan para koruptor, tentunya itu teramat sangat berbahaya.


Terkait hal ini jangan dianggap ini tidak mungkin, dahulu orang bilang DPR, Kepolisian, Kejaksaan, Kehakiman, MA, Menteri, tidak mungkin melakukan korupsi. Tapi berjalanya waktu terbukti diantara yang saya sebut diatas pada kenyataanya anggota mereka sudah ada yang terlibat korupsi.


Sebagai penutup saya tetap berharap banyak dengan keberadaan Pers supaya tetap menjaga netralitasnya. Dewan Pers dan juga masyarakat umum tentunya terus mengawasi setiap pemberitaan yang ada diberbagai media supaya tetap dikontrol dan diawasi dan ditindak tegas jika memang ada informasi dari berbagai produk pers yang itu bisa merusak citra Pers itu sendiri.


Semoga Pers beanr-benar bisa tetap Netral dan Independent dan memberikan informasi yang akurat dan benar.


Saya juga berharap setiap pemberitaan yang disebarkan oleh Pers bisa dipertanggungjawabkan tidak hanya kepada seluruh bangsa, tapi juga bisa mempertanggungjawabkan setiap yang diberitakan mereka dihadapan Tuhan Yang Maha Esa.


Selamat Hari Pers Nasional 2014


ilustrasi gambar | News.Detik.com

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.