Majalah di Jerman sebut Jokowi mirip Harun Al Rasyd dan Mandela

a7959d440343a88ae4d16af8682bb32f_jokowi-diberitakan-di-media-jerman


Entah kebetulan atau tidak, tadi saat saya melakukan sholat Jum'at, ustadz yang mengisi ceramah khatbah di masjid juga membicarakan soal Jokowi.


Barusaja saya ingin menuliskanya, tapi tiba-tiba baca berita disalah satu media online merdeka.com yang memberitakan terkait dengan adanya "Majalah Jerman yang sebut Jokowi dikatakan mirip dengan Harun Al Rasyd, Mandela dan Mick Jagger.


Dalam pemberitaan tersebut disebutkan bahwa Jokowi disebut-sebut oleh seorang bernama Erich Follath, Kamis (7/11). Jokowi dianggap tokoh penting yang akan menghiasi politik Asia.


Erich mengandaikan, perilaku Jokowi terkadang mirip khalifah Harun al-Rashid yang kerap blusukan. Harun kerap keluar dari Istananya di Baghdad untuk berbaur dengan rakyatnya. Terkadang Harun menyamar menjadi orang biasa untuk mendengarkan keinginan rakyatnya.


Harun Al-Rasyid adalah kalifah kelima dari kekalifahan Abbasiyah dan memerintah antara tahun 786 hingga 803. Di tangan Harun di sebut-sebut masa keemasan Islam. Waktu itu, Baghdad menjadi salah satu pusat ilmu pengetahuan dunia.


Nah, bicara soal blusukan inilah yang tadi oleh khatib di masjid tempat saya Jumatan menyebutkan jika Blusukan sebenarnya sudah dilakukan sejak jaman Khalifah Umar Bin Khatab.


Dimana saat itu dikisahkan Umar Bin Khatab melakukan penyamaran untuk berkeliling kampung dengan tujuan ingin melihat langsung kehidupan penduduk yang dipimpinya.


Saat Umar melakukan kunjungan ke daerah pemukiman penduduk, Umar yang saat itu menyamar sebagai warga biasa mendengar suara anak kecil yang menangis karena sedang kelaparan.


Kemudian di sebelah anak tersebut terlihat seorang Ibu yang terlihat sedang menenangkan anaknya supaya sabar menahan lapar daan menyuruh supaya anaknya dibawa tidur supaya tidak merasakan lapar. Sedangkan disisi yang lain ibu tersebut juga terlihat seolah sedang memasak sesuatu.


Karena waktu yang sudah begitu lama, Umar merasa curiga Ibu tadi sedang memasak apa, karena sudah begitu lama memasak hingga anaknya yang kelaparan sampai tertidur tapi yang dimasak belum juga diangkat oleh Ibu tadi. Barulah ketika alat yang untuk memasak dibuka, ternyata didalamnya hanya berisi air dan kerikil.


Rupanya sang Ibu tadi membohongi anaknya dengan memasak air dan batu supaya terlihat oleh anaknya jika Ibunya sedang masak.


Melihat kondisi tersebut Umar langsung menanyakan ke Ibu tersebut kenapa membohongi anaknya dengan cara seperti itu.


Lantas sang Ibu tadi bercerita banyak dan mengeluh tentang betapa pemimpinya tidak pernah memperhatikan nasibnya yang miskin dan sering mengalami kelaparan.


Tanpa menunggu waktu lama, Umar Bin khatab meminta izin supaya Ibu tersebut menunggunya sebentar.


Dengan segera Umar Bin Khatab langsung pergi dari sana kemudian menuju ke gudang penyimpanan gandum dan dengan pundaknya sendiri gandum tersebut diangkat oleh Umar yang jaraknya sangat jauh.


Ketika ada salah satu pengawal Umar yang ingin membawakan gandum tersebut, dengan Tegas Umar menolak dan berkata, "Biarlah aku sendiri yang mengangkat karena ini semua adalah dosa dan kesalahanku", namun pengawalnya masih tetap mencoba untuk memohon supaya dia sebagai pengawal biarlah dia yang mengangkatnya.


Melihat sikap pengawal tersebut, Umar tetap ngotot ingin membawa gandum tersebut sendirian sambil berkata ke pengawalnya, "Sanggupkah kamu menanggung dosaku kelak di Akherat karena telah membiarkan penduduk yang aku pimpin kelaparan?".


Sesampainya dirumah Ibu tadi akhirnya Umar menyerahkan persediaan gandum untuk Ibu dan anaknya tadi. Ketika ditanya oleh Ibu siapasebenernya dirinya, Umar baru bilang jika dirinyalah Umar Bin Khatab pemimpinya.


Mendengar nama itu sang Ibu gemetar dan ketakutan karena sebelumnya telah menilai negatif tentang kepemimpinan Umar. Namun dengan tersenyum justru Umarlah yang kemudian meminta maaf kepada Ibu tersebut karena telah lalai dan membiarkan dia dan anaknya kelaparan.


Itulah sedikit kisah Umar Bin Khatab seorang pemimpin yang sudah lebih dahulu melakukan "blusukan" daripada Jokowi.


Mendengar kisah tersebut dari Khatib Jumat tadi, Khatib juga berharap di Indonesia akan lahir pemimpin yang benar-benar memiliki mental kepemimpinan seperti Umar Bin Khatab yang selalu Tegas untuk membasmi pejabat korup dan pejabat yang bermegah-megahan.


Namun dibalik ketegasan Umar, tersimpan sebuah kelembutan hati yang mudah tersentuh akan setiap kondisi warganya yang kesusahan.


Saya sendiri tidak ingin melihat siapa pemimpin Indonesia kedepan yang pasti saya hanya berharap pemimpin kita kedepan bukanlah orang yang munafik.


Munafik dalam arti selalu berkoar dan menyebut dirinya orang suci dan bersih serta memegang prinsip dakwah dan membawa-bawa agama tapi kehidupanya justru menunjukan gaya hidup mewah yang hanya memperkaya diri sendiri dan keluarganya serta hanya mementingkan golonganya sendiri.


Memang tidak mungkin seseorang bisa sehebat Umar atau sahabat nabi terbaik lainya, tapi setidaknya ada banyak teladan yang bisa diikuti dari kepribadian baik mereka karena mereka juga manusia yang bisa di contoh dan diikuti kebaikanya jika memang para pemimpin kita mau mengikutinya.


sumber foto : merdeka.com

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.