Sampai Kapan Menjadi "BUDAK" di Negeri Sendiri ?




[caption id="attachment_1768" align="alignright" width="104" caption="Ilustrasi gambar || eramuslim.com"]Ilustrasi gambar || eramuslim.com[/caption]

Melalui tulisan ini penulis ingin mengucapkan turut berbela sungkawa atas meninggalnya dua warga yang meninggal dalam konflik keributan di P.T Freeport beberapa hari yang lalu. Korban tersebut bukanlah korban yang pertama dan kemungkinan bisa terjadi korban dimasa yang akan datang ketika konflik terus menerus berlangsung ?


Sebuah kondisi yang sebenernya sangat memilukan, warga Papua yang seharusnya bisa memiliki dan menikmati kekayaan emas yang maha dahsyat kekayaanya justru harus meninggal saat hanya menuntut kenaikan gaji :( . Yang lebih memilukan lagi adalah warga yang tewas terbunuh di duga karena terkena tembakan dari aparat yang seharusnya melindungi warganya ?


Seandainya saja pejabat negara ini bisa menjalankan amanat pasal 33 ayat (3) UUD 1945 yang menyatakan bahwa bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, mungkin kejadian ini tidak akan pernah terjadi.


Melihat konflik antara warga dengan Freeport harusnya dijadikan koreksi untuk para pejabat negara bahwa tidakkah mereka merasa malu dengan kinerja mereka yang justru hanya menerima "upeti" dari pihak asing melalui tambang emas freeport? sedangkan disisi yang lain rakyat disana justru hanya dijadikan "budak" untuk memperkaya freeport yang dikuasai oleh asing ?


Cobalah orang-orang yang merasa hebat dalam negosiasi dan ahli dalam bidang perekonomian untuk bersatu padu menyelamatkan aset-aset negeri ini yang masih banyak dikuasai asing. Sehingga dengan demikianpasal 33 ayat (3) UUD 1945 yang menyatakan bahwa bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat bukanlah hanya TULISAN TANPA MAKNA ??!!!!!


Ilustrasi gambar || eramuslim.COM

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.