Tragedi Makam Mbah Priok: SAT POL PP dan Masyarakat Harusnya Menjadi MITRA


Bergerilya di Dunia maya dan membaca beberapa koran cetak pagi ini semua memuat dan memberitakan terkait kasus dan Insiden Berdarah Tanjung Priok. Bahkan untuk para Blogger yang memiliki kebebasan dalam menulis dan berpendapat melalui blognya tidak segan mengumpat, mengutuk bahkan tidak sedikit yang melontarkan kata-kata makian dan cacian terhadap arogansi dari tindakan SATPOL PP atas insiden di Makam Mbah Priok di hari kemaren.


Mungkin saya sangat yakin bahwa hari ini pasti sudah terlalu banyak orang menulis terkait penyebab kenapa insiden tersebut bisa terjadi? Yang mana inti dari permasalahan tersebut adalah rencana Pemkot yang berencana membongkar makam Mbah Priok yang kemudian oleh warga setempat dianggap bukan hanya membongkar gapuranya saja tapi juga membongkar semua makam. Hal inilah yang menjadi awal dari konflik tersebut. Walaupun melalui media pihak Pemkot membantah isu tersebut dan justru menyatakan bahwa pihak pemkot justru akan memperluas area tersebut menjadi 100 m namun hal tersebut sudah terlambat karena konflik sudah terjadi.


Sebenarnya sudah terlalu sering kita mendengar dan melihat betapa ulah dan arogansi dari orang-orang berseragam bernama SATPOL PP ini telah membawa korban dan penderitaan orang-orang kecil dari Pedagang Kaki Lima, Anak-anak Jalanan, bahkan beberapa yang lalu karena ulah SATPOL PP ada seorang anak tukang bakso meninggal saat terjadi penertiban Pedagang Kaki Lima. Ini tentunya sangat dan sangat teramat IRONIS untuk sebuah petugas yang seharusnya menjadi abdi masyarakat.


Dalam Pasal 148 dan Pasal 149 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah yang mengamanatkan dibentuknya Satuan Polisi Pamong Praja untuk membantu Kepala Daerah dalam menegakkan Peraturan Daerah dan penyelenggaraan ketertiban umum serta katentraman masyarakat.


Dengan melihat pada kewenangan yang diberikan kepada SAT POL PP tersebut menunjukan bahwa sebenarnya keberadaan Satpol PP sangat penting dan strategis dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah sesuai dengan lingkup tugasnya, termasuk di dalamnya penyelenggaraan perlindungan masyarakat (Linmas).


Tapi kenapa peran dan Fungsi Sat Pol PP yang seharusnya begitu penting dan memiliki nilai manfaat yang tinggi justru dalam pelaksanaanya terlalu sering menimbulkan KONFLIK dalam tugas mereka ? Bahkan hingga membawa Korban luka-luka dan yang paling IRONIS dan MENYEDIHKAN hingga adanya korban yang meninggal.


Melihat hal tersebut. Sat Pol PP dan pihak terkait harus berani secara lantang bahwa ADA YANG SALAH dalam kinerja mereka selama ini. Dan masyakatpun juga harus koreksi diri bahwa beberapa masyarakat juga pasti ada yang salah dan untuk tercapainya kebersamaan antara Sat Pol PP dan masyarakat harus dibuat semacam penyadaran bersama bahwa Satpol PP dan Masyarakat harusnya sebuah mitra dalam tetap terjalinya sebuah kebersamaan dalam sebuah tatanan bermasyarakat disebuah wilayah atau daerah. Sehingga dalam setiap ada permasalahan bisa diselesaikan dengan musyawarah dan menghindari konflik fisik seperti yang terjadi di Tanjung Priok kemaren.


Sebenarnya tidak semua Sat Pol PP bersikap arogan dan bersikap brutal seperti yang terjadi di makam mbah priok kemaren. Saya beri contoh daerah yang saya tempati saat ini yaitu di Kota Yogyakarta.


Saya sendiri sudah berkali-kali berjualan sebagai Pedagang Kaki Lima di beberapa wilayah di Yogyakarta. Dari berjualan buku, kaos kaki, sticker, accesorie, Jualan Burger dan masih banyak yang lain yang semuanya berstatus sebagai Pedagang Kaki Lima.


Selama saya bekerja menjadi Pedagang Kaki Lima (PKL) hampir sama sekali tidak pernah yang namanya mengalami kekerasan dari pihak Sat Pol PP. Mungkin pernah terjadi beberapa konflik yang terjadi antara satpol pp dengan PKL di Yogya, yaitu saat terjadi penertiban Pedagang Kaki Lima di daerah Tugu Yogya. Namun konflik tersebut tidak pernah menimbulkan konflik sampai bentrok karena pihak Satpol PP bersama PKL selalu mencari solusi damai dari setiap kebijakan Pemkot Kota. Permasalahan saat itu terjadi karena beberapa PKL tidak mau dipindahkan ke daerah yang lain yang lokasinya memang jauh dari kota yogya sehingga menimbulkan kekhawatiran pedagang.


Karena mendengar keluhan dan kekhawatiran tersebut maka pihak PEMKOT menjawab permasalahan tersebut dengan memberikan Jaminan bahwa lokasi yang baru DIJAMIN akan lebih ramai dan rapi. Janji Pemkot tersebut ternyata TIDAK HANYA JANJI semata dan itu dibuktikan dengan cara memberikan undian Hadiah untuk Pengunjung yang datang ke pasar Klithikan.


Dengan Komitmen yang nyata dari Pemkot Yogya dan tetap terjalinya komunikasi yang baik antara Satpol PP dengan masyarakat serta SIkap TEGAS dari Pihak Pemkot Yogya saat itu membuat pasar Klithikan Yogyakarta menjadi tempat yang ramai dengan pengunjung sehingga para Pedagang Kaki Lima (PKL) tidak menjadi marah atas pemindahan tersebut dan justru mereka para pedagang PKL saat ini mengucapkan banyak-banyak terima kasih atas usaha dari Pemkot Kota Yogya dan Satpol PP.


Saya berharap untuk Pemkot dan Satpol PP juga masyarakat di daerah-daerah yang lain untuk mencoba belajar dan belajar dari daerah-daerah lain yang mereka berhasil bisa membangun kebersamaan antara Pemkot, satpol PP dan masyarakat menjadi mitra yang baik dalam menjaga lingkungan yang aman, tertib dan berbudaya.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.