Partai Politik Tidak Memiliki Kader Profesional ?

Isu resuffle Kabinet Presiden SBY jilid II kian mencuat ke permukaan, hal ini membuat sedikit gerah para mitra koalisi yang mendukung Pemerintahan SBY. Namun ada juga yang merasa tenang-tenang saja dan menganggap itu wajar dalam politik karena pemerintah memang yang memiliki wewenang terkait hal itu.


Resufle dalam sebuah kabinet/meneteri dalam pemerintaha kita bukan kali ini saja, pada pemerintahan Presiden SBY yang pertama juga sudah pernah dilakukan beberapa tahun yang lalu. Dan lagi-lagi itu hak Presiden.


Namun lebih penting dari itu semua, jika memang ada resufle kabinet, yang harus dijadikan pedoman oleh SBY sebagai Presiden harusnya memilih para menteri yang berasal dari orang-0orang profesional. Ini menjadi penting dikarenakan permasalahan-permasalahan yang muncul di negeri ini pada kenyataanya dibutuhkan dan diselesaikan dengan cara Profesional dan bukan melalui jalur keputudan POLITIK, dimana ketika sebuah permasalahan negeri ini muncul dan terjadi kemudian diselesaikan dengan cara Politik, maka itu menjadi sesuatu yang Ironis. Ironis karena negeri ini negara hukum dan jika itu sebuah permasalahan yang melanggar hukum, maka sudah sewajibnya masalah tersebut diselesaikan melalui jalur hukum pula, dan itu berarti didalamnya dibutuhkan sikap profesional dari semua belah pihak.


Di Indonesia sendiri kelihatanya sangat sulit untuk memiliki kabinet atau menteri atau juga pejabat-pejabat BUMN yang berasal dari orang-orang profesional, ini dikarenakan di Indonesia partai politik seolah masih di "DEWA-DEWA"kan dalam sebuah kekuasaan dan jabatan sehingga mereka yang bisa duduk dalam sebuah jabatan menteri harus dan kebanyakan dari partai politik yang SAYANGNYA, sangat sedikit orang-orang yang terjun dalam dunia politik memiliki keahlian dibidangnya atau sering disebut sebagai orang-orang profesional.


Dan inilah Ironi dunia Politik kita. Dimana sudah menajdi fakta bahwa Partai Politik tidak bisa melahirkan banyak orang-orang profesional dalam suatu bidang tertentu, sehingga saat menduduki sebuah jabatan mereka bukan ahlinya, dan menjadi sebuah masalah jika sebuah pekerjaan ketika tidak dikerjakan oleh orang-orang yang ahli dibidangnya maka tunggulah kehancuranya. Mungkin mereka bisa berkilah bahwa yang dibutuhkan pemimpin adalah jiwa kepemimpinanya. Tapi bagiku itu sebuah ungkapan yang bodoh dan sangat sempit pemikiranya.


Dan pada saat PEMILU yang lalu banyak fakta yang membuktikan bahwa Gagalnya pengkaderan dalam partai politik yang bisa melahirkan orang-orang profesional adalah adanya Gerakan dari partai politik yang beramai-ramai merekrut para Artis Ibukota untuk dijadikan kader "dadakan" mereka untuk bisa mengambil suara rakyat.


Ironisnya saat ini banyak sekali wakil rakyat kita diparlemen yang tidak tahu tentang ilmu politik itu sendiri dan bahkan secara "BLAK-BLAKAN" beberapa saat yang lalu ada sebuah acara Televisi yang mengungkap Betapa mereka para wakil rakyat ada yang terlihat begitu "BODOH" karena TIDAK BISA menyebut salah satu SILA dalam 5 sila PANCASILA. Tidakkah itu sebuah KEBODOHAN yang NYATA ?







Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.